Pengolahan Limbah

pengolahan limbah biogas

Dalam pembuatan kawasan industri tidak lepas dari limbah. Dalam rangka mewujudkan TP yang Go Green maka diperlukan pengolahan limbah yang dapat menghasilkan produk lain yang bermanfaat. Pemanfaatan limbah organik sebagai biomasa dapat dikonversi menjadi sumber energi dikenal sebagai konsep Energy Conversion Park (ECP) yang terdiri dari 3 model yaitu model pemanfaatan fraksi organik limbah padat, pengolahan feses dan substrat awal, dan model gabungan (Dael et al., 2013). Konsep tersebut juga dikenal lebih jauh dengan istilah bio-Energy Conversion Park (bio-ECP) lebih memokuskan pada multi dimensi, konsep sinergisme, koversi berbagai biomasa, dan keterpaduan teknologi proses konversi energi (Guisson et al., 2012).

Limbah yang dihasilkan dalam kawasan ini adalah limbah feses dan urin. Pemanfaatan limbah merupakan salah satu upaya dalam menurunkan efek gas rumah kaca secara berkelanjutan (Timmerman et al., 2013). Limbah feses sapi dimanfaatkan menjadi biogas dan pupuk organik. Biogas yang dihasilkan digunakan sebagai bahan bakar dan energi listrik alternatif terbarukan. Feses sapi diuraikan oleh mikroorganisme anaerob menghasilkan biogas yang mengandung metana sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Sumber energi biogas dari hasil peruraian feses dalam jumlah besar dapat dimanfaatkan juga sebagai sumber energi untuk pembangkit listrik dengan menggunakan Gen-Set. Selain menghasilkan listrik, biogas dapat juga digunakan sebagai sumber panas untuk memasak.

Kegiatan ini bersinergi dengan kegiatan penggemukan dan pembibitan sapi dalam menerima input suplai limbah kotoran sapi. Hasil proses pengolahan limbah lainnya berupa produk pupuk organik padat dan cair. Produk tersebut dimanfaatkan di dalam kawasan TP dan juga didistribusikan kepada masyarakat. Produk pupuk organik dikawasan TP digunakan untuk mendukung unit produksi hijauan pakan ternak dan pertanian organik terintegrasi. Sedangkan untuk output biogas berupa energi panas dan listrik didistribusikan kepada unit pengolahan pasca panen. Konsep keterpaduan dalam kegiatan ini melahirkan sistem zero waste dengan proses ketersediaan input limbah yang kontinu dalam satu kawasan dan menghasilkan output produk yang dimanfaatkan oleh kegiatan lainnya, sehingga dimaksimalkan tidak ada limbah yang yang mencemari lingkungan.