Pelatihan Internal dan Sosialisasi SOP Recording Petugas Technopark Banyumulek

Kebutuhan akan daging sapi di Indonesia pada tahun 2015 menurut Asosiasi Produsen Daging dan Feed lot Indonesia (APFINDO) adalah sebesar 639.000 ton, sedangkan produksi daging sapi di Indonesia hanya sebesar 523.927 ton. Melihat cukup besarnya ketimpangan antara jumlah permintaan dan pasokan , tentunya perlu dicermati oleh pihak terkait agar program swasembada daging dapat tercapai di tahun yang akan datang.

Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu provinsi penghasil daging di Indonesia dengan jumlah produksi mencapai 12.921 ton / tahun. Didukung dengan melimpahnya produksi pakan ternak dan kualitas sapi yang unggul, maka target untuk meningkatkan produksi daging sapi optimis bisa dicapai ditahun yang akan datang. Agar kualitas sapi unggul tetap terjaga, maka diperlukan teknik reproduksi peternakan yang maju dalam penerapannya.

Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mendapatkan bibit yang unggul adalah dengan mencatat performa ternak. Performa yang baik menjadi salah satu indikator kemampuan produksi maupun reproduksi seekor ternak. Hal ini tentu sangat membantu dalam memilih indukan dan pejantan unggul yang akan dijadikan bibit, sehingga akan dihasilkan generasi yang memiliki performa unggul.

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat mengadakan pelatihan recording sapi pada tanggal 19-20 April 2016. Kegiatan yang berlangsung di kawasan Techno Park Banyumulek ini diikuti oleh 34 orang yang terdiri dari staf Balai Inseminasi Buatan Daerah Banyumulek, petugas lapangan dan anggota kelompok ternak.

Hadir sebagai pembicara, Ir. Budi Septiani selaku Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kepala Balai Inseminasi Buatan Daerah Banyumulek yakni drh. Bima Priyatmaka dan para peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI yaitu, Saiful Anwar, M.Si, Widya Pintaka Bayu Putra, M.Sc dan Paskah Partogi Agung, M.Si.

Materi yang disampaikan oleh para pembicara meliputi standar, mekanisme, teknik dan seleksi recording yang baik untuk sapi bali yang ada dikawasan Techno Park Banyumulek. Tidak hanya sekedar penyampaian materi di dalam ruangan, para peserta juga dibekali dengan berbagai praktek di lapangan mengenai teknik pengukuran morfologi tubuh sapi dalam recording.

Para peserta dibagi menjadi 4 kelompok yang harus melakukan pengukuran bobot badan sapi dan ukuran-ukuran tubuh seperti: panjang badan, tinggi badan, lingkar dada, lingkar skrotum dan juga ciri-ciri khusus lainnya yang terdapat pada badan sapi, hingga sampai ke warna bulunya. Keberhasilan dari kegiatan recording ini tergantung dari kejujuran dan komitmen dari semua pihak terkait, untuk dapat bertugas sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Harapan besar disampaikan oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat melalui Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, agar di tahun 2018 Provinsi Nusa Tenggara Barat sudah dapat meluncurkan sapi galur Lombok. Tentunya ini merupakan tantangan bagi Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan provinsi NTB serta Techno Park Banyumulek untuk dapat mewujudkan lahirnya sapi galur Lombok dua tahun ke depan.

Red: Esti/humas-biotek LIPI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *