• pembimbingan
  • icon-pembimbingan-b
  • Pembimbingan Penelitian Mahasiswa oleh Puslit Bioteknologi LIPI
  • Pembimbingan Penelitian Mahasiswa oleh Puslit Bioteknologi LIPI

Uji aktivitas ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai Inhibitor RNA helikase virus hepatitis C : Laporan Skripsi 2013

Putri Syajarwati

Abstrak

Virus hepatitis C (HCY) merupakan penyebab penyakit hepatitis C yang mempunyai tingkat virulensi yang tinggi. Hingga saat ini belum ada vaksin dan obat untuk mencegah dan mengobati infeksi HCY. Terapi pengobatan saat ini adalah menggunakan pegylated interferon-a (lFN-a) dikombinasi dengan ribavirin, namun memiliki efektivitas yang rendah sekitar 40% - 50%. Upaya penemuan obat terhadap infeksi HCY diantaranya adalah dengan pencarian inhibitor terhadap enzim yang essensial untuk replikasi HCY, salah satunya adalah RNA helikase. Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan tanaman tropis yang banyak dibudidayakan di Indonesia dan dimanfaatkan sebagai obat tradisiona!' Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas ekstrak n-heksan, etil asetat, dan metanol kulit buah manggis sebagai inhibitor RNA helikase HCY.

Kloning gen plantaricin EF dari dari Lactobacillus plantarum S34: Laporan Skripsi 2013

Haryono Budi Santoso

INTI SARI

Bakteri asam laktat mempakan bakteri yang mempunyai banyak manfaat terutama karena menghasilkan bakteriosin sebagai antimikroba. Plantaricin EF merupakan bakteriosin kelas IIB yang mempunyai aktivitas tinggi dalam menghambat bakteri patogen. Bakteriosin ini merupakan bakteri nonlantibiotik yang mempunyai berat molekul kecil (kurang dari 10 KDa) dan tahan terhadap panas sehingga sangat berprospek dalam ketahanan pangan sebagai bahan biopreservatif.

Aplikasi teknologi marker sebagai pendeteksi sifat kembar pada sapi Fries Holland dan peranakan Ongole: Laporan PKL 2011

Amanda Putri Lestari

A. Latar Belakang
Peningkatan konsumsi daging umumnya disebabkan oleh meningkatnya standar hidup dan diversifikasi pangan. Kendala utama produksi daging di Indonesia justru disebabkan oleh populasi sapi lokal yang tidak dapat memenuhi norma gizi. Populasi sapi potong yang ada hanya sekitar 5% dari jumlah penduduk di Indonesia (Wirawan, 2011). Sedangkan di tahun 2007, populasi sapi perah di Indonesia sebanyak 378.000 ekor dan produksi susu sapi sebanyak 636.900 ton. Produksi sebesar itu hanya memenuhi 25-30% kebutuhan konsumsi r:lasionai, sehingga harus didatangkan susu dan produk olahatmya dari luar negeri yang terbanyak dari New Zealan, Australia, dan Philipina (Nugroho, 2008). Kebutuhan akan suplai daging yang meningkat dikalangan konsumen, telah memicu para ahli untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas produktivitas ternak sapi. Salah satu dari program unggulan lembaga penelitian dan dinas peternakan adalah kelahiran kembar pad a sapi. Pada dasarnya, sapi adalah hewan yang hanya menghasilkan satu ovum dalam siklus birahi. Hal ini menyebabkan kelahiran kembar pada sapi jarang terjadi. Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (2009), kelahiran kembar pada ternak sapi dapat ditingkatkan hingga 50% melalui seleksi sifat kembar, perbaikan manajemen pemeliharaa, dan pakan.

EVALUASI KUALITAS SPERMA SAPI PADA PENGENCERAN DAN PENYIMPANAN PADA SUHU 5OC : Laporan PKL 2010

Psycha Anindya Wicaksono

A. LATAR BELAKANG
Peningkatan jumlah penduduk yang signifikan selama beberapa tahun terakhir membawa dampak bagi industri peternakan berupa meningkatnya permintaan terhadap produk dari hewan ternak, terutama daging sapi. Akan tetapi, peningkatan kebutuhan konsumsi daging sapi saat ini tidak diimbangi dengan peningkatan produksi daging karena populasi sapi potong tidak bertambah, yaitu kurang lebih 12 juta ekor, bahkan jumlah ini cenderung menurun (Toelihere, 2004). Hal ini mendorong dikembangkannya teknik peningkatan mutu ternak yang diharapkan dapat memperbanyak jenis ternak yang unggul. Metode yang telah berkembang luas saat ini yaitu inseminasi buatan (IB).


Inseminasi Buatan (IB) merupakan teknologi reproduksi generasi pertama yang memanfaatkan sperma pejantan unggul secara maksimal dalam program pemuliabiakan ternak (Toelihere, 2004). Tujuan utama dilakukannya teknik IB adalah untuk mempercepat laju peningkatan populasi dan mutu serta replacement stock induk (Riyanto dan Sunarto, 2009). Teknologi IB adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan sperma yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut ‘insemination gun’ (Anonim, 2008).


Teknologi IB sudah merupakan hal yang umum bagi peternak di Indonesia, tetapi keberhasilan IB kadang menemui masalah dikarenakan kurangnya pengetahuan para peternak mengenai dasar mekanisme biologis dalam hubungan antara kualitas sperma dan fertilitas. Oleh sebab itu dilakukan evaluasi kualitas sperma yang meliputi evaluasi makroskopis dan mikroskopis. Evaluasi makroskopis meliputi volume, bau, warna, pH, dan konsistensi (kekentalan) cairan semen, sedangkan evaluasi mikroskopis meliputi motilitas, viabilitas, abnormalitas, dan membran plasma utuh (MPU) sperma.

Katalog : http://perpus.biotek.lipi.go.id/perpus/index.php?p=show_detail&id=12581

 

 

 

Isolasi dan identifikasi mikroba dari bintil akar padi dengan metode langsung dan metagenomik di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia : Laporan PKL 2010

Febiola Natasha

Latar Belakang

Nitrogen merupakan unsur kunci dalam pembentukan asam amino dan asam nukleat yang sangat enting dalam kehidupan makhluk hidup. Hampir sekitar 80% atmosfer merupakan gas nitrogen, tetapi gas nitrogen tersebut tidak dapat langsung digunakan oleh tanaman. Pada umumnya penambahan pupuk nitrogen dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan unsur nitrogen tanaman. Beberapa jenis tanaman tertentu dapat bersimbiosis membentuk bintil akar dengan bakteri pemfiksasi nitrogen. Dengan demikian tanaman tersebut tidak terlalu tergantung pada penambahan pupuk nitrogen untuk memenuhi kebutuhannya akan nitrogen. Melalui bintil akar yang terbentuk, mikroba simbion akan menangkap gas nitrogen di lldara, kemudian mengubahnya menjadi amonia yang dapat digunakan oleh tanaman. Amonia tersebut akan digunakan untuk memproduksi asam amino, protein, asam nukleat, dan produk bernitrogen lainnya (Lindemann & Glover, 2003). Namun, tidak semua tanaman dapat bersimbiosis dengan mikroba pemfiksasi nitrogen untuk membentuk bintil akar.

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

kunjungan

pelatihan

pembimbingan

pengujian

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI