• pembimbingan
  • icon-pembimbingan-b
  • Pembimbingan Penelitian Mahasiswa oleh Puslit Bioteknologi LIPI
  • Pembimbingan Penelitian Mahasiswa oleh Puslit Bioteknologi LIPI

Pengaruh konsentrasi 6-benzyl amino purine (BAP) terhadap pertumbuhan dan perbanyakan ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) tinggi beta karoten mentega 2 secara In Vitro: Laporan praktek Kerja Lapang 2012

sovia.jpgSovia Santi Leksikowati

Latar Belakang Masalah. Pangan merupakan hal yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Peningkatan ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. Salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan adalah melalui penganekaragaman, yakni proses mengembangkan produk pangan yang tidak tergantung hanya pada satu bahan pangan saja, tetapi juga memanfaatkan berbagai macam bahan pangan lainnya (Suryana, 2009).

Ubi kayu menjadi salah satu sumber pangan penting bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Lebih dari 500 juta penduduk dunia di negara-negara berkembang banyak menanam ubi kayu di lahan sempit sebagai sumber pangan (Roca et al., 1992). Menurut Nweke et al. (2002), ubi kayu merupakan bahan pangan pokok terpenting kedua di Afrika, dimana banyak petani berpenghasilan

rendah menanam ubi kayu ini di lahan marjinal dengan biaya murahdandapat menghidupi lebih dari 300 juta orang di daerah tersebut. Ubi kayu merupakan tanaman pangan nonberas yang memiliki kandungan gizi yang baik. Kandungan karbohidrat ubi kayu sebesar 34,7 gramllOO gram dan mengandung protein 1,2 gram/lOO gram (Soetanto, 2{)08).

Menurut Suryana (2009), permasalahan utama yang dihadapi dalam pengembangan agroindusti pangan nonberas seperti ubi kayu salah satu diantaranya adalah ketersediaan bahan baku pangan lokal yang tidak kontinyu sehingga tidak dapat menjamin keberlanjutan industri pengolahannya seperti pengolahan menjadi tepung cassava. Semakin berkembangnya industri pengolahan ubi kayu sekarang ini, menuntut penyediaan bahan baku ubi kayu dalam jumlah yang besar dan memenuhi kualitas yang ditetapkan. Sehingga para petani sebagai produsen baban baku industri membutuhkan banyak bibit yang berkualitas untuk dapat memenuhi permintaan industri.

Beberapa sifat umbi ubi kayu yang tidak menguntungkan adalah kandungan nutrisi yang rendah dibandingkan dengan umbi akar atau batang lainnya, kandungan sianida yang beracun, dan umur penyimpanan umbi yang sebentar menyebabkan ubi kayu sulit berkembang. Selain secara alami penyerbukan silang ubi kayu sangat sulit, maka perbaikan sifat menggunakan metode konvensional akan sangat membutuhkan waktu lama (Sudarmoflowati et all., 2002).

Strategi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan teknologi modem yang dapat menunjang ketersediaan dan kontinuitas produksi ubi kayu. Pembudidayaan ubi kayu melalui teknik in vitro memberikan peluang untuk melakukan perbanyakan secara massal. Keberhasilan perbanyakan secara in vitro ini akan bermanfaat untuk menunjang kegiatan penelitian perbaikan tanaman. Selain itu juga berrnanfaat bagi penyediaan bibit tanaman untuk para petani ubi kayu dan pengusaha perbanyakan tanaman. Perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan (in vitro) menawarkan peluang besar untuk menghasilkan jumlah bibit tanaman yang banyak dalam waktu relative singkat sehingga lebih ekonomis. Teknik perbanyakan tanaman ini dapat dilakukan sepanjang waktu tanpa tergantung musim. Selain itu, perbanyakan tanaman dengan teknik in vitro mampu mengatasi kebutuhan bibit -dalam jumlah besar, serentak, dan bebas penyakit sehingga bib it yang dihasilkan lebih sehat serta seragam. Oleh sebab itu, kini perbanyakan tanaman secara kultur jaringan mernpakan teknik altematif yang tidak dapat dihindari bila penyediaan bibit tanaman harns dilakukan dalam skala besar dan dalam waktu relatif singkat (Hambali et aI., 2006).

Media kultur mernpakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Dalam media kultur jaringan diperlukan pencambahan zat pengatur tumbuh untuk mendukung pertumbuhan eksplan. Sitokinin dan auksin mernpakan zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan dalam kultur jaringan tanaman. Sitokinin seperti Benzyl Amino Purine (BAP) sangat berperan dalam pembentukan dan penggandaan tunas in vitro, sedangkan auks in seperti Naphthalene Acetic Acid (NAA) berperan dalam pembentukan akar dan perpanjangan sel (Imelda et al., 2008).

Berdasarkan uraian di atas, dapat digarisbawahi bahwa ketersediaan bahan baku pangan lokal yang tidak kontinyu untuk menjamin keberlanjutan industry pengolahan dapat diatasi dengan melakukan pembudidayaan ubi kayu melalui teknik in vitro yang memberikan peluang untuk melakukan perbanyakan secara massal.

Dalam teknik in vitro, BAP dan NAA sering digunakan untuk pembentukan dan penggandaan tunas serta pembentukan akar dan perpanjangan sel. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian untuk mempelajari pertumbuhan dari kultur embrio ubi kayu yang ditumbuhkan dalam media MS (Murashige & Skoog) dengan menggunakan berbagai konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP dan NAA untuk mengetahui respon dari eksplan dalam setiap perlakuan dan kemungkinan perbanyakan vegetatifyang dapat dilakukan dengan kultur embrio ubi kayu tersebut.

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

kunjungan

pelatihan

pembimbingan

pengujian

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI