Sudut Biotek

Sinergi IPTEK Kakao LIPI dan NTB

kakao1Lombok, 13 September 2017-Kakao merupakan salah satu komoditas primadona untuk pasar lokal dan internasional. Kenyataannya, selama ini, nilai jual biji kakao di pasaran terbilang rendah karena hasil biji kakao belum berkualitas baik.Muasalnya, sampai saat ini masih banyak petani kakao yang tidak melakukan proses fermentasi pada biji kakao yang mereka jual. Sehingga dibeli dengan harga yang sangat murah oleh pihak industri. Sebagian petani juga telah melakukan proses fermentasi tradisional tanpa starter, tapi hasil biji kakao yang dihasilkan belum seragam menyebabkan pihak industri tetap membeli dengan harga biji kakao asalan.

Guna memberikan solusi masalah itu, peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI, Dr. Fahrurozi, telah memformulasikan starter kakao unggul ‘INOKA’. Formulasi starter didapatkan melalui proses penelitian di laboratorium dan telah terbukti dapat mengoptimalkan proses fermentasi biji kakao. Proses fermentasi yang semula memakan waktu 6-7 hari dapat dipersingkat jadi 4-5 hari saja. Selain itu, biji kakao hasil fermentasi memiliki keunggulan aroma yang lebih baik serta kualitas biji yang seragam. Sehingga biji kakao hasil fermentasi menggunakan starter ini telah sesuai dengan standar mutu biji kakao Standar Nasional Indonesia (SNI).

kakao2Tak sekadar menginvensi, LIPI pun mendiseminasikan produk teknologi starter kakao. LIPI, dalam hal ini Pusat Penelitian Bioteknologi bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lombok Utara (KLU), Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Lewat kerja sama ini dilaksanakan kegiatan diseminasi IPTEK fermentasi kakao kepada para petani kakao di KLU. Tak dinyana, kerja sama yang telah berjalan 1 tahun ini telah memunculkan senyum di wajah cerah para petani kakao di Desa Genggelang, KLU. Pasalnya, kualitas biji kakao hasil panen mereka telah meningkat signifikan.

kakao3Fakta ini terungkap ketika dilaksanakan kegiatan dengar pendapat antara Kelompok Tani Kopi dan Kakao Desa Genggelang KLU dengan Komisi XI DPR RI, Direktorat Jenderal Perkebunan (Dirjen. Bun.) Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian KLU, Fakultas Pertanian Universitas Mataram dan Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Kelompok Petani Kakao ‘Bunga Mekar’, Dusun Senara, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, KLU, pada 13 September 2017.

Pada kesempatan ini perwakilan kelompok tani kakao, Bapak Pardan, berbagi cerita dengan penggunaan starter ‘INOKA’ LIPI, biji kako yang semula berharga jual pada kisaran 25-27 ribu rupiah/kg kemudian melonjak 35-40 ribu rupiah/kg. Hal ini disebabkan biji kopi hasil fermentasi pendampingan LIPI ini menghasilkan biji kako dengan warna, aroma, tingkat keseragaman dan tingkat kandungan air yang lebih baik. Sebagai perbandingan, pada umumnya biji kakao kualitas premium grade A yang ada di pasaaran memiliki jumlah biji kako sebanyak 80 biji/100 gram sedangkan biji kakao yang dihasilkan kelompok tani di KLU cukup mengumpulkan 62 biji/100 gram. Artinya, kualitas biji kakao hasil fermentasi ‘INOKA’ LIPI ini telah melampaui grade A yang ada di pasaran. Sehingga kualitas biji kakao KLU kompetitif dengan biji kakao negara-negara produsen besar kakao dunia lainnya, seperti Brazil, Equador, Pantai Gading, dan Ghana.

taspen2Pada dengar pendapat ini baik Anggota Komisi XI DPR RI, Zainar, MBA., Dirjen. Bun. Kementerian Pertanian, Ir. Bambang, MM., Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Ir. Husnul Fauzi, M.Si., dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian KLU, Ir. Melta, menyerukan agar petani dan kelompok tani kakao lebih giat lagi dalam bertani serta memanfaatkan IPTEK gunan memajukan dunia pertanian di NTB. Disinggung pula pentingnya sinergi antara Kelompok Tani, Dinas Pertanian, Akademisi Universitas Mataram, dan LIPI sehingga dapat dicapai kemajuan yang lebih baik lagi bagi dunia pertanian dan perkebunan NTB.

Tak lupa, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Ir. Husnul Fauzi, M.Si., mengajak LIPI untuk bekerja sama teknis lebih lanjut pada tataran Provinsi NTB. Hal ini guna menindaklanjuti Nota Kesepahaman yang telah ditandatangani pada tahun 2014 lalu. Sehingga Fauzi mengharapkan agar outcome pendampingan IPTEK Kakao LIPI yang telah dilaksanakan di KLU, dapat juga diaplikasikan di wilayah lain di Provinsi NTB. (Angga WHF)

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI