Biotek

Puspita Lisdiyanti : Mendapat Dukungan Penuh Suami

Di Jepang ia banyak menemukan jenis mikroba dan dinamakan dengan nama Indonesia.

Selesai kuliah di Tokyo University of Agriculture and Technology pada 1992, Puspita kembali ke Indonesia dan langsung bekerja di LIPI sebagai peneliti.

Sampai di Indonesia, ia sempat bingung karena infrastruktur penelitiannya masih minim. Kenyataan itu sempat membuat ia sedih. Untung kesedihan itu tak berlangsung lama. LIPI langsung menyediakan tempat penelitian yang bagus buat Puspita.


“Keadaan serupa juga dialami teman-teman lain. Sepulang dari luar negeri, mereka sempat bingung karena tidak ada tempat kerja yang pas. Jauhjauh menimba ilmu ke negeri orang – pulang ke Indonesia tidak ada sarananya.

Rasanya ilmu yang kita miliki jadi sia-sia. Bahkan saat itu mikroba belum terkoleksi baik dan belum bisa diotak-atik,” tegasnya. Lima tahun kemudian, sekitar April 1997 ia kembali ke Jepang, melanjutkan S2 dan S3 di Tokyo University of Agriculture, di bidang mikrobiologi. Setelah lulus ia sempat bekerja di almamaternya sebagai asisten riset laboratorium.

Di sana ia banyak menemukan jenis mikroba dan dinamakan dengan nama Indonesia seperti cibinongensis dan bogorensis.

“Saya juga sempat menjadi asisten professor. Dua tahun saya bekerja di Jepang. Cukup menyenangkan, di Jepang saya bekerja sampai malam,” tambah Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan pada Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI ini. Sebagai peneliti, Puspita sangat sibuk sehingga tidak ada waktu umtuk keluarga.

“Saya bangga punya suami yang baik dan pengertian. Ia ikut membantu saya mengurus anak. Di rumah saja kadang-kadang saya masih kerja membuat makalah, tapi ia tak pernah marah.

Ia sangat mengerti profesi saya,” tuturnya. Haryo Pramono, sang suami sangat paham pekerjaan istrinya. Keadaan itu memudahkan Puspita mengembangkan karier.

Bukan hanya itu, keberhasilan ibu tiga anak ini meraih gelar doktor juga atas dorongan suami. Berbicara masalah hobi, Puspita sangat senang jalan-jalan dan mengoleksi perangko. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, ia tidak bisa lagi melanjutkan hobi tersebut.

Sekarang, kalau mau mengirim pesan orang tidak pakai surat lagi tapi email. “Dulu saya sering mendapat kiriman surat dari teman-teman kuliah dan teman yang kenal di pesawat, dan perangkonya saya kumpulkan,” ujarnya menutup perbincangan.faisal chaniago/im suryani

Koran Jakarta, 8 Agustus 2010

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI