Biotek

Mengembangkan Plasma Nutfah Talas

Oleh Dewi Mardiani

Kandungan nutrisi talas lebih unggul dari beras.

Bogor, selain disebut kota hujan, juga sering dijuluki kota talas. Beberapa daerah lain yang terkenal dengan talasnya, yaitu Sumedang, Malang (Jawa Timur), Mentawai (Sumatra Barat), dan Papua. Jenisnya pun beragam. Ada yang dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat, ada pula untuk pelengkap sayur, juga untuk obat herbal.

 

Talas (Colocasia esculenta (L) Schott) menjadi salah satu bahan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia, khususnya di beberapa daerah, seperti Jawa Barat dan Papua. Namun, talas memang belum menggantikan beras sebagai bahan makanan pokok utama walaupun kandungan nutrisinya lebih unggul dari beras.

Jenis tanaman talas-talasan (Araceae) ini diyakini berasal dari Asia Tenggara, terutama Indonesia. Genetik atau plasma nutfah talas di Indonesia pun beragam. Menurut Profesor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Made Sri Prana, pengembangan talas ke depan sangat leluasa. ''Ini penting untuk menunjang program diversifikasi pangan sekaligus untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional,'' ujarnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

 

Talas adalah sumber kalori dan mengandung karbohidrat sekitar 13 hingga 29 persen. Kandungan protein dan vitaminnya lebih baik dibandingkan uwi, ubi kayu, dan ubi jalar. Ukuran butirannya sangat kecil, yaitu diameter 1 hingga 1,5 mikrometer. Ini membuat talas mudah dicerna dan cocok dikonsumsi penderita gangguan pencernaan.

 

Prana mengatakan, talas muda dan helaian daun mudanya, bisa dimanfaatkan sebagai sayuran. Daunnya mengandung 23 persen protein (berat kering), kaya kalsium, fosfor, besi, vitamin (C, tiamina, riboflavin, dan niacin). Namun, satu masalah pada tanaman ini adalah kandungan asam atau kristal oksalatnya bisa menimbulkan iritasi atau gatal. Namun, beberapa teknologi pengolahan talas bisa menurunkan kadar asamnya hingga 50 persen.

 

Plasma nutfah

Pakar sumber daya genetik botani ini mengatakan, untuk mengembangkan varietas talas, sistem plasma nutfah bisa dilakukan. Karena plasma nutfah merupakan substansi yang ada di setiap kelompok makhluk hidup yang merupakan sumber sifat keturunan. ''Ini bisa dimanfaatkan atau dikembangkan untuk merakit kultivar baru,'' ujarnya.

 

Menurut dia, plasma nutfah talas bisa mengembang ke varietas talas unggul lama dan baru, varietas lokal, tipe-tipe primitif, ras gulma, dan jenis lain yang merupakan kerabat dekat talas. Konservasi plasma nutfah talas, ungkap dia, penting dilakukan karena talas salah satu bahan makanan pokok, juga sumber ekonomi masyarakat. ''Sangat disayangkan, karena khazanah plasma nutfahnya saat ini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan akibat tererosi,'' ujar Prana.

 

Kaya kultivar talas

Tanaman ini ada yang berumbi kecil, hingga berukuran besar dengan tangkai daun cukup panjang serta daun berbentuk perisai. Jenis tanamannya berbunga, ada yang jantan dan betina, juga ada yang steril.

 

Talas dibagi dua varietas, yaitu talas biasa (C esculenta var.esculenta) di daerah tropis dan talas jepang-satoimo (C esculenta var.antiquorum) di subtropis. Untuk talas biasa, terdapat di Asia Tenggara dan Pasifik sebagai daerah asalnya dan Indonesia jadi daerah terpenting.

 

Dari kegiatan eksplorasi Kelompok Peneliti Talas Puslit Bioteknologi LIPI di Lampung, Jawa, Bali, dan Sulawesi Selatan, dibawa 713 sampel. Hasil studi morfologi dan biokimia (isozymes) menyebutkan, tidak kurang ada 180 morfotipe talas.

 

Penelitian lainnya menemukan, di Kepulauan Mentawai saja, ada 150 kultivar talas lokal. ''Ini menguatkan dugaan bahwa sekitar 30 tahun yang lalu di Indonesia kemungkinan terdapat lebih dari 300 talas, berikut variannya,'' kata Prana.

 

Ia juga mengungkapkan, dari profil isozymes talas Indonesia, jauh lebih bervariasi dibandingkan Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Isozymes yang dilihat adalah enam sistem enzim, yaitu Malate Dehydrogenase (MDH), Phosphogluco Isomerase (PGI), 6-Phosphogluconate Dehydrogenase (6-PGD), Isocitrate Dehydrogenase (IDH), Malate Enzyme (ME), dan Shikimic Dehydrogenase (SKSH). Semua enzim ini diekstrak dari pucuk daun talas Sulawesi dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

 

Tim LIPI pun berhasil memperoleh 20 jenis talas lokal potensial. Uji provenan terhadap 20 talas itu menyimpulkan, jenis Kaliurang (talas LIPI) lebih unggul, produktivitasnya tinggi, dapat ditanam di dataran rendah dan tinggi, tahan serangan hama, umbinya enak, dan tahan penyakit atau Taro Leaf Blight (TLB).

 

Penelitian lainnya di Papua, berhasil mengumpulkan 800 talas di kebun percobaan Pusat Studi Ubi-ubian Universitas Cendrawasih, Manokwari, Papua. Seleksi dilakukan dan diperoleh satu kultivar, yakni UC 031 yang melebihi daya tahan kultivar talas Jawa. ''Bisa diperkirakan bila dieksplorasi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, mungkin angka 500 kultivar bisa terlampaui. Sayangnya, khazanah plasma nutfah talas berangsur terkikis,'' kata Prana. ed: andina

 

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/42/112377/Mengembangkan_Plasma_Nutfah_Talas