Biotek

Penanda Genetika Mampu Deteksi Pembalakan Kayu Langka

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI menggunakan penanda genetik untuk melihat pengaruh pembalakan terhadap keanekaragaman genetika jenis kayu penting seperti meranti serta ulin Eusideroxylon zwagerii yang mulai langka.

"Salah satu keuntungan penggunaan marka genetik adalah bisa mengetahui sidik jari suatu log kayu berasal dari daerah tertentu," kata peneliti pada Puslit Bioteknologi LIPI Prof Dr. Enny Sudarmonowati yang dihubungi di Jakarta, Senin (24/5).

 

Saat ini Prof Enny Sudarmonowati dan Puslit Bioteknologi sedang mengembangkan teknologi dan basis data sidik jari tanaman kehutanan untuk mendeteksi aktivitas pembalakan ilegal, sehingga log-log kayu yang dijual ke luar negeri bisa ditelusuri asalnya dari hutan mana, ujarnya.

Teknologi isoenzim dan RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA), ujarnya, dapat mendeteksi sidik jari, sumber bibit dan keragaman genetik tanaman berdasarkan pola pita isoenzim atau DNA, kata Enny yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset oleh LIPI.

Pihaknya sudah menggunakan penanda genetik (marker-assisted selection/MAS) sejak 1996 untuk beberapa jenis pohon di hutan Kalimantan Tengah dan Jambi dengan menggunakan isozim, RAPD dan AFLP (Amplified fragment length polymorphism), jelasnya.

"Hasil penelitian mengungkap variasi penanda RAPD ternyata berkorelasi dengan beberapa sifat seperti diameter, tinggi dan volume tanaman," kata Enny. Teknik penanda molekuler, urainya, mengkombinasikan seleksi dengan mendeteksi perubahan susunan gen akibat evolusi, mutasi, dan fenomena lain dengan melihat perubahan urutan basa nukleotida suatu DNA yang khas untuk setiap mahluk hidup.

Ia juga mengatakan, teknik molekuler bisa digunakan untuk mencek keragaman genetika bukan hanya di tingkat spesies tapi hingga tingkat genetik. Kalau suatu spesies tampak seragam dan tidak terlalu bervariasi secara genetik, maka jenis tersebut akan cepat punah, jelasnya.

"Dengan diketahui suatu spesies memiliki keragaman rendah maka bisa segera direkomendasikan agar ada konservasi untuk tanaman tersebut misalnya dikawin-kawinkan agar keragamannya dapat meningkat," katanya.

Ia menambahkan bahwa selain meranti dan ulin,maka LIPI juga sudah mengevaluasi keragaman genetik jenis-jenis lain seperti rotan manau (Calamus manan), sengon (Albazia Falcata), Mangium (Acacia mangium Willd), bintangur (Callophylum inophylum L), pulai (Alstonia scholaris) hingga durian (Durio zibethinus) di Sumatera, Kalimantan dan Jawa.

Hasilnya seharusnya menjadi acuan pemerintah dalam melakukan upaya pelestarian sekaligus pengembangan jenis-jenis langka tersebut secara berkelanjutan melalui pencarian bibit unggul, katanya.

Rekayasa genetika dengan memanfaatkan teknik penanda genetik (MAS) di Indonesia, menurut dia, masih ketinggalan sehingga perlu dipacu lagi untuk memetakan secara genetika keanekaragaman tanaman kehutanan di Indonesia. (Ant/vg/OL-04)

 

Sumber : Media Indonesia

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI