Biotek

Penguasaan Pupuk Teknologi “Beyonic” LIPI

Revolusi hijau di Asia mampu melipat gandakan produksi pangan. Akan tetapi dampak negatif yang ditimbulkannyapun juga tidak sedikit. Lahan pertanian mengalami penurunan kualitas dengan tajam. Pemakaian pupuk sintetis yang berlebihan dan penggunaan pestisida serta herbisida merupakan salah satu penyebabnya. Pada saat musim kemarau, lahan pertanian kekurangan air, kering, retak sehingga tidak mendukung pertumbuhan tanaman. Sebaliknya pada musim penghujan, air permukaan berlebihan, banjir serta berlumpur, sehingga tidak  mendukung pertumbuhan tanaman. Tidak jarang lahan pertanian terkontaminasi pestisida dan senyawa kimia toksik lainnya. Secara total, progam revolusi hijau jilid pertama telah menyebabkan kondisi lahan pertanian dan lingkungan hidup mengalami kerusakan.



Indonesia sebagai bagian dari belahan Asia, tidak luput dari persoalan itu. Sebagai negara agraris, Indonesia harus mampu membenahi lahan pertaniannya. Indonesia memiliki aset abadi berupa cahaya matahari dan laut dengan panjang pantai terpanjang di dunia, tanah volkanik yang subur, kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi serta kekayaan budaya yang sangat luar biasa, bisakah kita meraih julukan DAPUR DAN PUSAT MAKANAN DUNIA atau mejadi yang terdepan sebagai PUSAT MAKANAN HALAL DAN THOYIB DUNIA

Salah satu prasyarat yang harus ditempuh adalah membenahi lahan pertanian, menghilangkan segala bahan toksik yang ada di dalam lahan pertanian, mengembalikan kesuburan lahan pertanian dan memperbaiki kualitas Iingkungan hidup. PUPUK  adalah  satu   diantara  alternatif  yang ditawarkan.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Sabtu, 30 Januari 2010 di Kawasan Cibinong Science Center (CSC). meluncurkan Beyonic. “Beyonic“ sebagai singkatan dari beyond  bio-organic. Artinya, beyonic sebagai teknologi untuk menjadikan pupuk organik tidak sekedar sebagai pupuk penyubur tanaman, tetapi menjadi pupuk yang bisa menjalankan misi lain, seperti pemulihan lahan bekas tambang yang kini berserakan di Tanah Air.

Menteri Riset dan Teknologi, Bapak Suharna Surapranata yang pada peluncuran Beyonic (Beyond bio-organic) tersebut menyampaiakan rasa bangganya dan berterima kasih bahwa LPND di jajaran Kementerian Ristek seperti LIPI dapat berpartisipasi dalam program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II melalui peluncuran dua hasil karyanya yaitu Teknologi Beyonic dan Radar Pantai. Bahwa kedua produk ini mempunyai arti penting dalam upaya mendukung pengelolaan sumber daya alam yaitu sektor pertanian dan kelautan.

Teknologi  Beyond bio-organic
Di tengah kelangkaan pupuk nasional, kita bisa mengenalkan alternatif teknologi memproduksi pupuk yang ramah lingkungan. Teknologi ini memungkinkan kemandirian dalam produksi. Kerusakan lahan pertanian yang sering didengung-dengungkan sebagian besar diakibatkan oleh penggunaan pupuk sintetis secara berlebihan yang pada akhirnya dapat merusak kesuburan tanah. Harapan Menristek mengatakan penemuan teknologi beyonic oleh para microbiologist LIPI dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi masalah ini dalam mengembalikan kesuburan tanah melalui penggunaan mikroorganisme yang sesuai.

pemanfaatan mikroba yang melimpah yang menjadi kekayaan hayatii kita menjadi produk yang dapat meningkatkan produktifitas pertanian dan selanjutnya kesejahteraan petani sehingga mampu bersaing dengan koleganya di negara tetangga ujar Umar Anggara Jenie, Kepala LIPI dalam pembukaannya. Rekayasa teknologi yang didasari riset keilmuan multidisiplin dari mikrobiologi, fisiologi tumbuhan, ilmu tanah, bioteknologi dan lain-lain. akan terus dikembangkan sehingga tercipta produk yang selalu baru untuk menjawab tantangan baru, sepertihalnya  teknologi Beyonic-LIPI ini.

Dengan teknologi Beyonic-LIPI ini, para peneliti-penelitinya ingin mencurahkan dedikasinya sesuai core competencenya di bidang mikrobilogi dalam membantu pembangunan pertanian yang berwawasan lingkungan dan bekelanjutan. Teknologi Beyonic-LIPI ini menekankan penggunaan mikroba yang teruji untuk membuat starter atau produk turunan starter yang berupa pupuk organik hayati.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI, Endang Sukara menyatakan, pemakaian pupuk sintetis serta penggunaan pestisida dan herbisida yang berlebihan merupakan salah satu penyebab tanah lahan pertanian mengalami penurunan kualitas. "Pengurangan pemakaian pupuk buatan ini menjadi salah satu concern LIPI, sebab selain mengurangi biaya produksi, juga membantu mengurangi emisi karbondioksida yang menjadi target pemerintah hingga tahun 2020".

Pemerintah memperkirakan, kebutuhan ketersediaan pupuk organik pada tahun 2010 mencapai lebih kurang 11,75 juta ton. "Untuk itu, pemanfaatan mikroba yang merupakan salah satu kekayaan hayati kita menjadi alternatif yang harus terus dikembangkan menjadi suatu produk untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan mengurangi pemakaian pupuk buatan".

Peneliti Pusat Penelitian Biologi (P2B) LIPI,  Heddy Sulistyo menambahkan, "Saat ini, koleksi mikroba yang dimiliki LIPI yang ada di Puslit Bioteknologi (Biotechnology Culture Cotlection/BtCC) dan di Puslit Biologi (Biology Culture Coliection/BCC) termasuk mikroba endofitik (berasal dan diisolasi dari tumbuhan)". Selanjutnya "Mikroba-mikroba yang telah teruji, berguna untuk mengubah lahan pertanian menjadi lebih baik"

Selain ituTeknologi Beyonic-LIPI diharapkan dapat mengantisipasi dampak perubahan iklim karena dapat mempercepat pertumbuhan tanaman. Saat ini beberapa produk teknologi Beyonic-LIPI yang dihasilkan oleh LIPI masih memerlukan penelitian lebih lanjut guna meningkatkan kualitasnya.

Pada kesempatan acara yang sama di luncurkan juga Radar Pantai. Peluncuran ini didasari dari sumber daya laut yang melimpah belum dinikmati secara optimal oleh masyarakat.  Pembangunan Radar Pantai lebih banyak terfokus pada daratan (terrestrial), sehingga negara-negara kontinental sering mempertanyakan kenapa  riset kelautan Indonesia tidak menonjol.  Perhatian pemerintah terhadap kelautan baru berjalan kurang dari 10 tahun, padahal  laut  merupakan 2/3 wilayah Indonesia. Dengan penemuan radar pantai ini diharapkan dapat membantu TNI angkatan laut untuk menjaga kaeamanan laut lepas pantai kita dari pencurian sumber daya laut oleh bangsa asing, ujar Menristek (rn/humasristek)

 

Sumber : www.ristek.go.id