Biotek

Diabetes:Musim Menanam Semangka Berdaun Sirih

Sejumlah Tanaman Transgenik yang Dikembangkan LIPI (GATRA/Nur Hidayat)...

Sejumlah Tanaman Transgenik yang Dikembangkan LIPI (GATRA/Nur Hidayat)Sebuah kabar istimewa mampir ke telinga Reza Tirtawinata: ada durian tanpa sekat dan tanpa duri! Sebagai Kepala Divisi Penelitian dan Laboratorium, PT Mekar Unggul Sari, yang mengelola Taman Wisata Mekarsari di kawasan Jonggol, Bogor, Reza tentu tak menyia-nyiakan info seperti itu. "Kabar itu berasal dari Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) Nusa Tenggara Barat, Abdullah A. Karim. Saya minta tolong dikirimkan beberapa contoh," kata Reza kepada Gatra, dua pekan lalu.

Abdullah mengirim dua contoh paket. Yang pertama adalah durian tanpa sekat. "Bentuknya seperti durian biasa. Tapi, ketika dibelah, dagingnya lebih tebal karena tak bersekat," ujar Reza. Isi paket kedua lebih unik. Buahnya sepintas mirip buah sukun yang besar. Tapi, ketika dibuka, tampaklah daging durian berwarna kekuning-kuningan. "Rasanya manis, gurih, dan lezat," kata Reza.

Pihak Mekarsari segera membentuk tim kecil untuk terbang ke Lombok berburu buah-buahan unik itu, Februari tahun lalu. "Pohonnya tumbuh di ladang penduduk di kaki Gunung Rinjani, cukup dekat dengan perkampungan," katanya. Reza memang sengaja tidak menyebut lokasi tepatnya karena khawatir diserbu penggemar durian.

Setelah menemukan durian gundul, tim kemudian memburu pohon durian tanpa sekat. "Lokasinya lebih sulit dan lebih masuk ke pedalaman," tutur Reza. Setelah mengendarai sepeda motor, tim harus menyusuri jalan setapak, sampai akhirnya menemukan pohon durian tanpa sekat di suatu kawasan lereng gunung yang terjal. Pada saat ini, sampel kedua buah unik itu sedang dikembangkan di laboratorium Mekarsari. "Sekarang keduanya sedang dalam proses pelepasan varietas untuk diakui sebagai varietas unggul nasional," kata Reza kepada wartawan Gatra Syamsul Hidayat.

Mekarsari tak hanya berburu buah-buahan aneh, melainkan juga berusaha merekayasa dan mengadakan persilangan. Karena itu, terciptalah buah-buahan campuran --bak lantunan lagu "buah semangka berdaun sirih". Salah satunya adalah nangkadak, hasil persilangan antara nangka dan cempedak. Kenapa sih mau bersusah payah berburu dan menciptakan bibit unggul? Bagi Reza, berburu dan menciptakan bibit unggul bukan semata untuk bisnis. Lebih dari itu, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

"Upaya bioteknologi dan hortikultura untuk mengembangkan bibit unggul memang sangat diharapkan dapat mengatasi krisis pangan dunia," ujar Prof. Endang Gumbira-Sa[ES][SQ]id, guru besar teknologi industri pertanian Institut Pertanian Bogor. Pada saat ini, menurut Egum --demikian ia biasa disapa-- sejumlah lembaga penelitian dan pendidikan tengah menjalankan sejumlah proyek pengembangan bibit unggul dalam berbagai varietas, mulai buah-buahan, palawija, hingga padi (lihat: Dari Nangkadak Hingga Durian Gundul).

Kondisi pangan dunia pada saat ini, Egum melanjutkan, memang memprihatinkan. "Untuk pertama kali dalam sejarah, harga pangan dunia melonjak tajam bersamaan dengan harga energi dunia sejak dua tahun terakhir ini," kata Egum, yang juga menjadi konsultan PT Agro Farmaka Nusantara. Ia kemudian memaparkan sejumlah data. Harga beras dunia kualitas sedang, misalnya, mencapai US$ 550 per ton, akhir Maret lalu. Harga ini meroket mencapai 96% dibandingkan dengan periode yang sama setahun silam. "Bahkan harga beras dunia pada April lalu dilaporkan mencapai US$ 745 per ton di Filipina," tutur Egum.

Gonjang-ganjing itu, berdasarkan pengamatan Egum, terjadi karena sejumlah produsen beras dunia menahan diri untuk tidak mengekspor persediaannya agar kebutuhan dalam negeri tidak terganggu. Selain itu, kenaikan ini juga dipicu gerakan konversi berbagai komoditas bahan pangan, seperti jagung, gandum, tebu, dan ubi, menjadi bioetanol dan bahan energi alternatif lainnya. "Ini mengakibatkan terjadinya persaingan sengit dan harga pangan melambung," kata Egum.

Data-data itu klop dengan catatan Badan Pusat Statistik tentang kondisi pengeluaran pangan rakyat Indonesia. Belanja pangan masyarakat meningkat 4,6% hingga 13,35% pada 2003-2005. "Peningkatan itu dapat terjadi karena inflasi dan indeks harga pangan yang cenderung makin meningkat," ujar Egum. Melihat kondisi ini, Egum memandang, Indonesia perlu menggalakkan bioteknologi pangan dan perbaikan mutu hortikultura nasional. "Bioteknologi pangan dan hortikultura kita perlu ditingkatkan agar terhindar dari krisis pangan," kata Egum.

Sejumlah proyek untuk menciptakan dan merekaya bibit unggul sebenarnya sudah dimulai. Pusat Penelitian (Puslit) Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), misalnya, berhasil menciptakan padi transgenik yang tahan diterpa kekeringan. "Kami melakukannya dengan rekayasa genetika," kata Kepala LIPI, Umar Anggara Jenie, kepada pers.

Tak hanya itu. Kepala Puslit Bioteknologi LIPI, Bambang Prasetya, menambahkan bahwa LIPI telah mengembangkan varietas padi transgenik tahan hama penggerek batang dan telah berlangsung hingga generasi keempat sejak 2003. "Padi ini 10 kali lebih tahan serangan penggerek dibandingkan dengan varietas rojolele, ciherang, dan cilosari," kata Bambang Prasetya kepada wartawan Gatra Elmy Diah Larasati.

Berbagai balai penelitian pangan di daerah juga giat melakukan perbaikan kualitas pangan. Coba lihat apa yang dikembangkan Balai Pengembangan Tanaman Pangan (BPTP) Sumatera Selatan. Berkat kerja keras tim peneliti BPTP Sumatera Selatan, mereka dapat merekayasa agar panen duku palembang lebih cepat dan lebih banyak.

Awalnya, petani tradisional membiakkan duku dari bibit biji. Tapi, untuk panen awal diperlukan waktu hingga 20-25 tahun. Metode okulasi juga pernah dicoba, tapi banyak yang gagal karena sifat kulit pohon duku yang tipis dan bergetah. Metode cangkok juga kurang efisien karena akar pohon duku kurang kuat.

Tim ahli BPTP kemudian merekayasa varietas duku unggul yang dapat diperbanyak secara sambung pucuk. Varietas duku unggul sambung pucuk ini tak memerlukan waktu lama, paling banter 6-7 tahun sudah berbuah. "Teknik sambung pucuk ini memiliki tingkat keberhasilan yang lebih baik dibandingkan dengan metode lainnya," tutur Suparwoto, salah satu peneliti yang menemukan duku unggul ini. Selain itu, menurut Suparwoto, teknik sambung pucuk tetap menjaga kemurnian varietas duku. "Cita rasa dan kualitas buahnya tetap terjaga," katanya kepada wartawan Gatra Noverta Salyadi.

Kini BPTP Sumatera Selatan tengah melakukan pembibitan sambung pucuk di Desa Sukaraja Baru, Kabupaten Ogan Ilir, yang berjarak 50 kilometer dari kota Palembang. Sebenarnya proyek ini dimulai pada 1990, tapi baru menampakkan hasil pada 2003. "Sekarang sudah banyak yang berbuah. Bahkan banyak juga pesanan bibit dari Malaysia dan Thailand untuk dikembangkan di sana," kata H. Tholid, Ketua Kelompok Lestari Tani, yang mengurus perkebunan duku di wilayah itu.

Pencarian bibit unggul tak melulu berasal dari inisiatif lembaga penelitian. Lembaga Pengembangan Teknologi dan Manajemen Argo Industri, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, bekerja sama dengan PT Unilever untuk mengembangkan benih kedelai hitam unggulan sejak 2000.

Ketika itu, Unilever baru saja mengakuisisi pabrik kecap Bango. Mereka segera membenahi sisi manajemen, termasuk masalah bahan baku kecap, yakni kedelai. Varietas kedelai yang selama ini digunakan dinilai tak memadai. Unilever kemudian meminta UGM mencari bibit unggul kedelai.

"Kami pun merekayasa bibit unggul kedelai hitam yang awalnya dikembangkan di kawasan Ciwalen, Jawa Barat," kata Mary Astuti, yang menjadi koordinator proyek kerja sama itu. Bibit itu telah menjalani serangkaian uji coba, mulai uji pupuk, jarak tanam, produktivitas, pengairan, daya tahan hama, umur panen, hingga daya simpan. Akhirnya tercipta varietas unggul kedelai yang disebut "Mallika", yang berarti "kerajaan". "Harapannya, Mallika jadi raja benih kedelai hitam," ujar Mary kepada wartawan Gatra Arief Koes Hernawan.

Mallika disebutkan lebih produktif dibandingkan dengan jenis lainnya. Jika satu polong kedelai biasa berisi tiga biji, Mallika memiliki hingga lima biji dan dapat tahan disimpan sampai enam bulan. Mallika juga tahan terhadap hama, terutama ulat jengkal dan ulat grayak. Selain itu, Mary mengatakan, Mallika lebih menyehatkan. "Kulitnya mengandung antioksidan dan dapat mencegah penyakit jantung koroner dan darah tinggi," katanya.

Tahun lalu, Mallika dikukuhkan sebagai varietas unggul oleh Badan Benih Nasional. Namun tim ahli Fakultas Pertanian UGM tak berhenti sampai di situ. Mereka masih berupaya mengembangkan varietas baru yang diturunkan dari Mallika. "Ini bukan rekayasa bioteknologi, melainkan pemurnian bibit unggul. Rencananya, varietas baru itu bernama GaMallika," kata Setyastuti Purwanti, salah satu peneliti dari Fakultas Pertanian UGM.

Menemukan dan menciptakan bibit unggul bukan perkara gampang. Perlu kerja keras dan kesabaran yang tinggi. Kadang-kadang, kalau tidak cepat, bisa ditelikung pihak lain. Reza menceritakan pengalamannya ketika menemukan jambu air Citra. "Saya menemukan varietas itu ketika sedang mancing ikan di Anyer pada 1990," kata Reza.

Sang pemilik pohon jambu, bernama Sanyoto, berbaik hati memberikan beberapa batang stek jambu air Citra kepada Reza untuk dikembangkan. Sebanyak 20 bibit awalnya dikembangkan di Mekarsari dan menjadi pohon induk. Karena ukurannya luar biasa, jambu air Citra mendapat status varietas unggul nasional dari Departemen Pertanian pada 1997.

Namun, apa yang terjadi? "Jambu Citra malah banyak dikembangkan di luar negeri," ujar Reza. Pada 1999, kata Reza, beberapa bibitnya pernah dibawa orang Thailand. Mereka cepat mengembangkan jambu raksasa itu sebagai komoditas komersial andalan, dengan nama chompu Indo atau thong sam sie alias "emas tiga warna". Pada 2003 saja, sebanyak 40.000 pohon jambu air Citra ditanam di sana. "Sekarang jambu produksi Thailand ini dijual di supermarket Indonesia dengan nama jambu air bangkok, dengan harga Rp 60.000 per kilogram," kata Reza.

Soal "pencurian" bibit unggul adalah sekelumit contoh masalah yang membelit bidang bioteknologi pangan dan hortikultura negeri ini. Sejumlah pakar bioteknologi yang dihubungi Gatra sepakat, masih banyak masalah lainnya. "Dalam soal kepakaran bioteknologi tidak kalah, tapi dalam hal lainnya, kita masih banyak ketinggalan," kata Bambang Purwantara, Ketua Umum Perhimpunan Bioteknologi Indonesia.

Misalnya, hingga kini belum ada tanaman transgenik yang dapat dipasarkan secara luas. "Jangankan dipasarkan, yang sampai tahap uji coba di multi-lokasi saja belum. Kebanyakan masih dalam tahap penelitian," kata Bambang Purwantara kepada wartawan Gatra Basfin Siregar.

Maklum, masyarakat belum "melek bioteknologi pangan". "Bioteknologi masih belum populer sehingga belum banyak yang mau mengaplikasikannya," Bambang Prasetya menambahkan. Ia menilai, masih banyak yang menganggap penerapan bioteknologi pada berbagai produk pangan, tanaman, hewan, dan manusia justru berbahaya.

Selain itu, Bambang Prasetya juga melihat kurangnya dukungan pemerintah dan minimnya payung hukum yang mengatur tentang hasil-hasil bioteknologi, terutama produk-produk transgenik. Dan yang terakhir, apa lagi kalau bukan masalah dana. Bantuan dan fasilitas bioteknologi masih banyak bertumpu pada pihak swasta dan negara-negara asing. "Dana dari APBN hanya 0,00 sekian persen, membuat kami sulit bergerak," ujar Bambang Presetya.

Bambang Purwantara sependapat dengan Bambang Prasetya. Sebelum suatu produk bioteknologi atau transgenik diuji coba tanam, lalu dipasarkan, haruslah melalui Komisi Keamanan Hayati. "Dan itu butuh biaya banyak. Ongkos uji laboratorium, pemeriksaan, dan sebagainya memang ditanggung pihak yang mengajukan penelitian. Biayanya bisa mencapai puluhan dan ratusan juta," kata Bambang Purwantara.

Karena itu, salah satu cara untuk mengatasi masalah itu, Kepala Urusan Penelitian dan Pengembangan, Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Djoko Santoso, menilai bahwa pengembangan dan kebijakan bioteknologi setidaknya harus berjangka pendek dan dapat diterapkan langsung pada masyarakat. "Dengan begini, kepercayaan masyarakat terhadap bioteknologi pangan dapat terbangun," katanya kepada wartawan Gatra Deni Muliya Barus. Dengan dasar kepercayaan itulah, dapat dibangun tujuan yang lebih tinggi.

Nur Hidayat
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 30 Beredar Kamis, 5 Juni 2008]

Diabetes
Musim Menanam Semangka Berdaun Sirih

Sejumlah Tanaman Transgenik yang Dikembangkan LIPI (GATRA/Nur Hidayat)Sebuah kabar istimewa mampir ke telinga Reza Tirtawinata: ada durian tanpa sekat dan tanpa duri! Sebagai Kepala Divisi Penelitian dan Laboratorium, PT Mekar Unggul Sari, yang mengelola Taman Wisata Mekarsari di kawasan Jonggol, Bogor, Reza tentu tak menyia-nyiakan info seperti itu. "Kabar itu berasal dari Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) Nusa Tenggara Barat, Abdullah A. Karim. Saya minta tolong dikirimkan beberapa contoh," kata Reza kepada Gatra, dua pekan lalu.

Abdullah mengirim dua contoh paket. Yang pertama adalah durian tanpa sekat. "Bentuknya seperti durian biasa. Tapi, ketika dibelah, dagingnya lebih tebal karena tak bersekat," ujar Reza. Isi paket kedua lebih unik. Buahnya sepintas mirip buah sukun yang besar. Tapi, ketika dibuka, tampaklah daging durian berwarna kekuning-kuningan. "Rasanya manis, gurih, dan lezat," kata Reza.

Pihak Mekarsari segera membentuk tim kecil untuk terbang ke Lombok berburu buah-buahan unik itu, Februari tahun lalu. "Pohonnya tumbuh di ladang penduduk di kaki Gunung Rinjani, cukup dekat dengan perkampungan," katanya. Reza memang sengaja tidak menyebut lokasi tepatnya karena khawatir diserbu penggemar durian.

Setelah menemukan durian gundul, tim kemudian memburu pohon durian tanpa sekat. "Lokasinya lebih sulit dan lebih masuk ke pedalaman," tutur Reza. Setelah mengendarai sepeda motor, tim harus menyusuri jalan setapak, sampai akhirnya menemukan pohon durian tanpa sekat di suatu kawasan lereng gunung yang terjal. Pada saat ini, sampel kedua buah unik itu sedang dikembangkan di laboratorium Mekarsari. "Sekarang keduanya sedang dalam proses pelepasan varietas untuk diakui sebagai varietas unggul nasional," kata Reza kepada wartawan Gatra Syamsul Hidayat.

Mekarsari tak hanya berburu buah-buahan aneh, melainkan juga berusaha merekayasa dan mengadakan persilangan. Karena itu, terciptalah buah-buahan campuran --bak lantunan lagu "buah semangka berdaun sirih". Salah satunya adalah nangkadak, hasil persilangan antara nangka dan cempedak. Kenapa sih mau bersusah payah berburu dan menciptakan bibit unggul? Bagi Reza, berburu dan menciptakan bibit unggul bukan semata untuk bisnis. Lebih dari itu, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

"Upaya bioteknologi dan hortikultura untuk mengembangkan bibit unggul memang sangat diharapkan dapat mengatasi krisis pangan dunia," ujar Prof. Endang Gumbira-Sa[ES][SQ]id, guru besar teknologi industri pertanian Institut Pertanian Bogor. Pada saat ini, menurut Egum --demikian ia biasa disapa-- sejumlah lembaga penelitian dan pendidikan tengah menjalankan sejumlah proyek pengembangan bibit unggul dalam berbagai varietas, mulai buah-buahan, palawija, hingga padi (lihat: Dari Nangkadak Hingga Durian Gundul).

Kondisi pangan dunia pada saat ini, Egum melanjutkan, memang memprihatinkan. "Untuk pertama kali dalam sejarah, harga pangan dunia melonjak tajam bersamaan dengan harga energi dunia sejak dua tahun terakhir ini," kata Egum, yang juga menjadi konsultan PT Agro Farmaka Nusantara. Ia kemudian memaparkan sejumlah data. Harga beras dunia kualitas sedang, misalnya, mencapai US$ 550 per ton, akhir Maret lalu. Harga ini meroket mencapai 96% dibandingkan dengan periode yang sama setahun silam. "Bahkan harga beras dunia pada April lalu dilaporkan mencapai US$ 745 per ton di Filipina," tutur Egum.

Gonjang-ganjing itu, berdasarkan pengamatan Egum, terjadi karena sejumlah produsen beras dunia menahan diri untuk tidak mengekspor persediaannya agar kebutuhan dalam negeri tidak terganggu. Selain itu, kenaikan ini juga dipicu gerakan konversi berbagai komoditas bahan pangan, seperti jagung, gandum, tebu, dan ubi, menjadi bioetanol dan bahan energi alternatif lainnya. "Ini mengakibatkan terjadinya persaingan sengit dan harga pangan melambung," kata Egum.

Data-data itu klop dengan catatan Badan Pusat Statistik tentang kondisi pengeluaran pangan rakyat Indonesia. Belanja pangan masyarakat meningkat 4,6% hingga 13,35% pada 2003-2005. "Peningkatan itu dapat terjadi karena inflasi dan indeks harga pangan yang cenderung makin meningkat," ujar Egum. Melihat kondisi ini, Egum memandang, Indonesia perlu menggalakkan bioteknologi pangan dan perbaikan mutu hortikultura nasional. "Bioteknologi pangan dan hortikultura kita perlu ditingkatkan agar terhindar dari krisis pangan," kata Egum.

Sejumlah proyek untuk menciptakan dan merekaya bibit unggul sebenarnya sudah dimulai. Pusat Penelitian (Puslit) Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), misalnya, berhasil menciptakan padi transgenik yang tahan diterpa kekeringan. "Kami melakukannya dengan rekayasa genetika," kata Kepala LIPI, Umar Anggara Jenie, kepada pers.

Tak hanya itu. Kepala Puslit Bioteknologi LIPI, Bambang Prasetya, menambahkan bahwa LIPI telah mengembangkan varietas padi transgenik tahan hama penggerek batang dan telah berlangsung hingga generasi keempat sejak 2003. "Padi ini 10 kali lebih tahan serangan penggerek dibandingkan dengan varietas rojolele, ciherang, dan cilosari," kata Bambang Prasetya kepada wartawan Gatra Elmy Diah Larasati.

Berbagai balai penelitian pangan di daerah juga giat melakukan perbaikan kualitas pangan. Coba lihat apa yang dikembangkan Balai Pengembangan Tanaman Pangan (BPTP) Sumatera Selatan. Berkat kerja keras tim peneliti BPTP Sumatera Selatan, mereka dapat merekayasa agar panen duku palembang lebih cepat dan lebih banyak.

Awalnya, petani tradisional membiakkan duku dari bibit biji. Tapi, untuk panen awal diperlukan waktu hingga 20-25 tahun. Metode okulasi juga pernah dicoba, tapi banyak yang gagal karena sifat kulit pohon duku yang tipis dan bergetah. Metode cangkok juga kurang efisien karena akar pohon duku kurang kuat.

Tim ahli BPTP kemudian merekayasa varietas duku unggul yang dapat diperbanyak secara sambung pucuk. Varietas duku unggul sambung pucuk ini tak memerlukan waktu lama, paling banter 6-7 tahun sudah berbuah. "Teknik sambung pucuk ini memiliki tingkat keberhasilan yang lebih baik dibandingkan dengan metode lainnya," tutur Suparwoto, salah satu peneliti yang menemukan duku unggul ini. Selain itu, menurut Suparwoto, teknik sambung pucuk tetap menjaga kemurnian varietas duku. "Cita rasa dan kualitas buahnya tetap terjaga," katanya kepada wartawan Gatra Noverta Salyadi.

Kini BPTP Sumatera Selatan tengah melakukan pembibitan sambung pucuk di Desa Sukaraja Baru, Kabupaten Ogan Ilir, yang berjarak 50 kilometer dari kota Palembang. Sebenarnya proyek ini dimulai pada 1990, tapi baru menampakkan hasil pada 2003. "Sekarang sudah banyak yang berbuah. Bahkan banyak juga pesanan bibit dari Malaysia dan Thailand untuk dikembangkan di sana," kata H. Tholid, Ketua Kelompok Lestari Tani, yang mengurus perkebunan duku di wilayah itu.

Pencarian bibit unggul tak melulu berasal dari inisiatif lembaga penelitian. Lembaga Pengembangan Teknologi dan Manajemen Argo Industri, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, bekerja sama dengan PT Unilever untuk mengembangkan benih kedelai hitam unggulan sejak 2000.

Ketika itu, Unilever baru saja mengakuisisi pabrik kecap Bango. Mereka segera membenahi sisi manajemen, termasuk masalah bahan baku kecap, yakni kedelai. Varietas kedelai yang selama ini digunakan dinilai tak memadai. Unilever kemudian meminta UGM mencari bibit unggul kedelai.

"Kami pun merekayasa bibit unggul kedelai hitam yang awalnya dikembangkan di kawasan Ciwalen, Jawa Barat," kata Mary Astuti, yang menjadi koordinator proyek kerja sama itu. Bibit itu telah menjalani serangkaian uji coba, mulai uji pupuk, jarak tanam, produktivitas, pengairan, daya tahan hama, umur panen, hingga daya simpan. Akhirnya tercipta varietas unggul kedelai yang disebut "Mallika", yang berarti "kerajaan". "Harapannya, Mallika jadi raja benih kedelai hitam," ujar Mary kepada wartawan Gatra Arief Koes Hernawan.

Mallika disebutkan lebih produktif dibandingkan dengan jenis lainnya. Jika satu polong kedelai biasa berisi tiga biji, Mallika memiliki hingga lima biji dan dapat tahan disimpan sampai enam bulan. Mallika juga tahan terhadap hama, terutama ulat jengkal dan ulat grayak. Selain itu, Mary mengatakan, Mallika lebih menyehatkan. "Kulitnya mengandung antioksidan dan dapat mencegah penyakit jantung koroner dan darah tinggi," katanya.

Tahun lalu, Mallika dikukuhkan sebagai varietas unggul oleh Badan Benih Nasional. Namun tim ahli Fakultas Pertanian UGM tak berhenti sampai di situ. Mereka masih berupaya mengembangkan varietas baru yang diturunkan dari Mallika. "Ini bukan rekayasa bioteknologi, melainkan pemurnian bibit unggul. Rencananya, varietas baru itu bernama GaMallika," kata Setyastuti Purwanti, salah satu peneliti dari Fakultas Pertanian UGM.

Menemukan dan menciptakan bibit unggul bukan perkara gampang. Perlu kerja keras dan kesabaran yang tinggi. Kadang-kadang, kalau tidak cepat, bisa ditelikung pihak lain. Reza menceritakan pengalamannya ketika menemukan jambu air Citra. "Saya menemukan varietas itu ketika sedang mancing ikan di Anyer pada 1990," kata Reza.

Sang pemilik pohon jambu, bernama Sanyoto, berbaik hati memberikan beberapa batang stek jambu air Citra kepada Reza untuk dikembangkan. Sebanyak 20 bibit awalnya dikembangkan di Mekarsari dan menjadi pohon induk. Karena ukurannya luar biasa, jambu air Citra mendapat status varietas unggul nasional dari Departemen Pertanian pada 1997.

Namun, apa yang terjadi? "Jambu Citra malah banyak dikembangkan di luar negeri," ujar Reza. Pada 1999, kata Reza, beberapa bibitnya pernah dibawa orang Thailand. Mereka cepat mengembangkan jambu raksasa itu sebagai komoditas komersial andalan, dengan nama chompu Indo atau thong sam sie alias "emas tiga warna". Pada 2003 saja, sebanyak 40.000 pohon jambu air Citra ditanam di sana. "Sekarang jambu produksi Thailand ini dijual di supermarket Indonesia dengan nama jambu air bangkok, dengan harga Rp 60.000 per kilogram," kata Reza.

Soal "pencurian" bibit unggul adalah sekelumit contoh masalah yang membelit bidang bioteknologi pangan dan hortikultura negeri ini. Sejumlah pakar bioteknologi yang dihubungi Gatra sepakat, masih banyak masalah lainnya. "Dalam soal kepakaran bioteknologi tidak kalah, tapi dalam hal lainnya, kita masih banyak ketinggalan," kata Bambang Purwantara, Ketua Umum Perhimpunan Bioteknologi Indonesia.

Misalnya, hingga kini belum ada tanaman transgenik yang dapat dipasarkan secara luas. "Jangankan dipasarkan, yang sampai tahap uji coba di multi-lokasi saja belum. Kebanyakan masih dalam tahap penelitian," kata Bambang Purwantara kepada wartawan Gatra Basfin Siregar.

Maklum, masyarakat belum "melek bioteknologi pangan". "Bioteknologi masih belum populer sehingga belum banyak yang mau mengaplikasikannya," Bambang Prasetya menambahkan. Ia menilai, masih banyak yang menganggap penerapan bioteknologi pada berbagai produk pangan, tanaman, hewan, dan manusia justru berbahaya.

Selain itu, Bambang Prasetya juga melihat kurangnya dukungan pemerintah dan minimnya payung hukum yang mengatur tentang hasil-hasil bioteknologi, terutama produk-produk transgenik. Dan yang terakhir, apa lagi kalau bukan masalah dana. Bantuan dan fasilitas bioteknologi masih banyak bertumpu pada pihak swasta dan negara-negara asing. "Dana dari APBN hanya 0,00 sekian persen, membuat kami sulit bergerak," ujar Bambang Presetya.

Bambang Purwantara sependapat dengan Bambang Prasetya. Sebelum suatu produk bioteknologi atau transgenik diuji coba tanam, lalu dipasarkan, haruslah melalui Komisi Keamanan Hayati. "Dan itu butuh biaya banyak. Ongkos uji laboratorium, pemeriksaan, dan sebagainya memang ditanggung pihak yang mengajukan penelitian. Biayanya bisa mencapai puluhan dan ratusan juta," kata Bambang Purwantara.

Karena itu, salah satu cara untuk mengatasi masalah itu, Kepala Urusan Penelitian dan Pengembangan, Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Djoko Santoso, menilai bahwa pengembangan dan kebijakan bioteknologi setidaknya harus berjangka pendek dan dapat diterapkan langsung pada masyarakat. "Dengan begini, kepercayaan masyarakat terhadap bioteknologi pangan dapat terbangun," katanya kepada wartawan Gatra Deni Muliya Barus. Dengan dasar kepercayaan itulah, dapat dibangun tujuan yang lebih tinggi.

Sumber : Gatra.com

Nur Hidayat
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 30 Beredar Kamis, 5 Juni 2008]


Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI