Biotek

Cabe Baru Kaya Nutrisi

Laporan dari Wageningen
Cabe Baru Kaya Nutrisi
Eddi Santosa - detikNews


Wahyuni Menjelaskan Riset (E.Santosa/detikcom ) Wageningen - Selain tahan terhadap hama dan penyakit (tak perlu obat kimia), cabe varitas baru nantinya juga kaya nutrisi seperti vitamin C, karotenoid (prekursor vitamin A), dan lain-lain.

Cabe yang kaya nutrisi ini risetnya juga dilakukan di Universitas Wageningen oleh Wahyuni dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Cibinong.

Laporan dari Wageningen
Cabe Baru Kaya Nutrisi
Eddi Santosa - detikNews


Wahyuni Menjelaskan Riset (E.Santosa/detikcom ) Wageningen - Selain tahan terhadap hama dan penyakit (tak perlu obat kimia), cabe varitas baru nantinya juga kaya nutrisi seperti vitamin C, karotenoid (prekursor vitamin A), dan lain-lain.

Cabe yang kaya nutrisi ini risetnya juga dilakukan di Universitas Wageningen oleh Wahyuni dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Cibinong.

Ini saling melengkapi dengan riset ketahanan cabe terhadap hama dan penyakit yang digeluti Syarifin Firdaus dari Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB (jebolan Universitas Negeri Malang), Awang Maharijaya dari Departemen Agronomi IPB, dan Hartati dari Bioteknologi LIPI Cibinong.

Menilik cabe dan tanaman lainnya dari famili Solanacea tak terpisahkan dari gastronomi dan pola makan rakyat Indonesia, maka hasil riset mereka kelak bisa sangat terasa manfaatnya. Konsumen bisa menikmati cabe kaya nutrisi (sangat bergizi) dan bebas dari residu pestisida atau obat kimia lainnya. Sementara petani juga bisa meraih margin lebih besar karena ongkos produksi murah.

Eksplorasi nutrisi dan genetiknya diupayakan meningkatkan kualitas nutrisi cabe komersial melalui introgresi (pemindahan, red) gen-gen pengendalinya dari suatu jenis ke jenis komersial.

"Ada beberapa metabolit yang dijadikan target dalam riset ini, yaitu metabolit sekunder terkait dengan kesehatan tubuh seperti vitamin C, karotenoid dan lain-lain," ujar Wahyuni kepada detikcom saat dikunjungi di greenhouse Unifarm, Universitas Wageningen, Rabu (6/8/2008).

Riset Wahyuni ini berlangsung mulai Maret 2008 hingga 2012, dinaungi oleh kerjasama Indonesia-Belanda dengan nama Indosol Project.

Pendekatan dan Metode

Analisis metabolit sekunder tersebut dilakukan pada beberapa jenis cabe yang berasal dari beberapa negara di seluruh dunia seperti AS, Bolivia, Mexico, Suriname, dan Indonesia. Pemilihan jenis cabai didasarkan pada keunikan yang dimiliki setiap jenis cabai, termasuk warna dan bentuk buah.

Wahyuni melakukannya dengan dua pendekatan, yakni Targeted Analysis (TA) dan Untargeted Analysis (UA). TA dimaksudkan untuk menganalisis kandungan metabolit tertentu, seperti yang telah disebutkan di atas. Metode yang digunakan adalah High Performance Liquid Chromatography (HPLC).

Sementara UA dilakukan untuk mengungkap seluruh kandungan metabolit lain (selain target), sehingga didapatkan gambaran menyeluruh mengenai metabolit apa saja yang terkandung di dalam buah cabe. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah Liquid Chromatography- Mass Spectrometry (LC-MS) dan Gas Chromatography- Mass Spectrometry (GC-MS).

Hasil analisis kemudian dibandingkan antara satu jenis dengan jenis cabe yang lain, dengan membandingkan konsentrasi masing-masing metabolit dan ada tidaknya metabolit di antara jenis-jenis cabe.

Perbedaan konsentrasi metabolit selanjutnya akan dicek tingkat genetik yaitu melihat pengaturan ekspresi gen-gen yang terkait dengan produksi metabolit sekunder.

Supervisi dilakukan oleh dua pakar di bidangnya yaitu Dr Arnaud Bovy dari Plant Research Institute (PRI) Wageningen, Belanda, dan Dr Enny Sudarmonowati dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.(es/es)

Sumber : Detik.Com