Biotek

Kedelai Plus Ditemukan

Dapat Menggenjot Hasil Panen
Kedelai Plus Ditemukan

CIBINONG - Di tengah melambungnya harga kedelai hingga Rp8.500/kilogram, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong menemukan kedelai plus. Kelebihan kedelai ini terdapat mikroba yang berpotensi melakukan proses penambahan nitrogen secara hayati.

Dapat Menggenjot Hasil Panen
Kedelai Plus Ditemukan

CIBINONG - Di tengah melambungnya harga kedelai hingga Rp8.500/kilogram, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong menemukan kedelai plus. Kelebihan kedelai ini terdapat mikroba yang berpotensi melakukan proses penambahan nitrogen secara hayati.
 
"Mikroba potensi itu adalah bakteri rhizobium yang didapat dari tanah," ujar Peneliti LIPI Harmastini kepada Radar Bogor dalam konferensi persnya di pertemuan Bioteknologi LIPI Cibinong, kemarin.
 
Menurut dia, di udara bebas mengandung 80 persen unsur nitrogen. Namun, tanaman tidak memanfaatkannya secara langsung. Bakteri rhizobium itu dipelihara dan disimpan dengan baik. Nah, koleksi bakteri rhizobium merupakan modal utama untuk mengembangkan pupuk pengganti nitrogen.
 
Dia menjelaskan, karakteristik bakteri rhizobium bersimbiosa dengan tanaman legum seperti kedelai, kacang tanah dan kacang hijau. Bakteri rhizobium juga menginfeksi perakaran dari tanaman dan hidup dengan cara membentuk bintil-bintil akar.
 
Aplikasi bakteri rhizobium pada tanaman, tambah dia, dapat dilakukan dengan mencampur suspensi bakteri pada biji kedelai. Sehingga saat biji itu berkecambah, bakteri rhizobium mulai menginfeksi akar kedelai dan selanjutnya membentuk bintil akar.
 
Sedangkan Deputi IPPI LIPI Dr Endang Sukara mengatakan, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI sudah mengembangkan teknologi praktis dalam aplikasi bakteri rhizobium pada biji kedelai. Teknologi ini dirancang sedemikian rupa agar petani tidak terlalu repot dalam mencampurkan bakteri pada benih.
 
Teknologi LIPI menghasilkan suatu produk yang dikenal dengan kedelai plus. Dalam hal ini bakteri rhizobium diinsersikan dalam benih dan bakteri rhizobium menempati rongga udara yang ada di dalam biji. Rhizobium hidup dalam keadaan dorman di dalam kedelai," jelasnya.
 
Petani, sambung dia, dapat menanam kedelai plus dan tidak memerlukan pemupukan optimal. Sebab, kebutuhan pupuk kimia dapat berkurang hingga 60 persen, khususnya pupuk urea.
 
Produksi biji yang dihasilkan, jelas dia, dapat meningkat dua kali lipat produksi rata-rata nasional. Produksi nasional rata-rata 1,2 ton per hektare dan hasil uji lapangan yang mengunakan bakteri rhizobium dapat meningkatkan hasil hingga 2,6 ton per hektare. Bahkan, percontohan di Musirawas menunjukkan tingkat produksi hingga 3,6 ton per hektare.
 
"Peran mikroba yang hidup bersimbiosa dengan tanaman menjadi penting untuk dikaji potensinya," tegasnya.
 
Dengan pemakaian benih itu, jelas dia, hasil yang diperoleh tidak kalah dengan produk impor. Jadi, petani bisa segera memakai produk ini. Selain menguntungkan, hasil yang diperoleh pun lebih baik. (sal)

(Redaksi Radar Bogor)
 
Sumber : http://radar-bogor.co.id/