Biotek

Dukungan Pemerintah Daerah Kurang, Sosialisasi Terhambat

Upaya LIPI Mengembangkan Pertanian (2-habis)
Dukungan Pemerintah Daerah Kurang, Sosialisasi Terhambat

Penemuan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjadi tak berguna karena kurangnya sosilisasi. Begitu juga dengan hasil kerja keras ahli LIPI yakni kedelai plus pada petani. Padahal temuan ini sudah lama dan baru mencuat lagi setelah kelangkaan kedelai pada pekan lalu. Bagaimana LIPI mensosialisasikan pada petani?

Upaya LIPI Mengembangkan Pertanian (2-habis)
Dukungan Pemerintah Daerah Kurang, Sosialisasi Terhambat

Penemuan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjadi tak berguna karena kurangnya sosilisasi. Begitu juga dengan hasil kerja keras ahli LIPI yakni kedelai plus pada petani. Padahal temuan ini sudah lama dan baru mencuat lagi setelah kelangkaan kedelai pada pekan lalu. Bagaimana LIPI mensosialisasikan pada petani?

Hampir seluruh warga Indonesia memiliki ketergantungan pada bahan makanan yang berbahan baku kedelai seperti tahu dan tempe. Namun, pertanian Indonesia sendiri tak mampu memenuhi kebutuhan kedelai untuk dalam negeri. Dampaknya, untuk memenuhi kebutuhan itu, pemerintah harus mengimpor dari negara lain.

Saat harga kedelai impor mahal, berimbas pada pasaran kedelai di dalam negeri, sehingga harganya melonjak. Selain itu, diperparah dengan langkanya kedelai di pasaran.

Nah, untuk mengurangi ketergantungan impor kedelai, petani Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri. Terlebih teknologi LIPI sudah menghasilkan suatu produk kedelai plus. Kedelai plus ini terdapat bakteri rhizobium yang diinsersikan ke benih. Sedangkan bakteri rhizobium ini menempati rongga-rongga udara yang ada dalam biji dan rhizobium di dalam biji kedelai dalam keadaan dorman.

Petani dapat menanam kedelai plus seperti menanam kedelai pada umumnya, namun kedelai plus tak memerlukan pemupukan optimal. Soalnya  kebutuhan pupuk kimia dapat berkurangi hingga 60 persen khususnya pupuk urea.

Produksi biji yang dihasilkan dapat meningkatkan hingga dua kali lipat produksi rata-rata nasional. Saat ini produksi rata-rata sebesar 1,2 ton/hektare dan hasil uji lapangan kedelai plus dapat meningkatkan hasil menjadi 2,6 ton/hektare.
 
”Dalam hal ini, peran dari mikroba yang hidup bersimbiosa dengan tanaman menjadi penting untuk dikaji potensinya,” ujar peneliti LIPI Ny Harmastini.
 
Sayangnya hasil temuan LIPI Cibinong sejak beberapa tahun lalu, belum banyak petani yang mengetahuinya. Penyebabnya tak lain kurangnya  sosilisasi hasil penelitian tersebut.
 
Untuk sosialisasi pada petani, pihak LIPI masih mengeluhkan kurangnya dukungan pemerintah daerah. ”Padahal kami butuh bantuan pemerintah daerah untuk mensosialisasi temuan ini,” tambahnya. (*)

(Faisal Hilmi )
 
Sumber : http://radar-bogor.co.id/