Biotek

Atasi Kelangkaan Bahan Baku Tahu-Tempe, Kembangkan Kedelai Plus

Upaya LIPI Mengembangkan Pertanian (1)
Atasi Kelangkaan Bahan Baku Tahu-Tempe, Kembangkan Kedelai Plus

Pusat Penelitian Boiteknologi LIPI Cibinong mengembangkan kedelai plus, sebelum terjadi kelangkaan bahan baku pembuatan tempe dan tahu. Kelebihan kedelai plus terdapat  mikroba yang berpotensi melakukan proses penambahan nitrogen secara hayati. Bagaimana mensosialisasikannya pada petani?

Upaya LIPI Mengembangkan Pertanian (1)
Atasi Kelangkaan Bahan Baku Tahu-Tempe, Kembangkan Kedelai Plus

Pusat Penelitian Boiteknologi LIPI Cibinong mengembangkan kedelai plus, sebelum terjadi kelangkaan bahan baku pembuatan tempe dan tahu. Kelebihan kedelai plus terdapat  mikroba yang berpotensi melakukan proses penambahan nitrogen secara hayati. Bagaimana mensosialisasikannya pada petani?

Puluhan ribu pengrajin tahu-tempe sangat membutuhkan kedelai sebagai bahan bakunya. Saat ini, mereka masih merana dan tersiksa saat kedelai mahal. Bahkan, belum lama ini, para pedagang tahu-tempe mogok kerja sebagai dampak dari mahalnya bahan makanan yang sarat akan kandungan protein nabati ini.
 
Salah satu penyebab mahalnya harga kedelai karena ketergantungan Indonesia pada import kedelai. Sehingga, saat ada kenaikan harga yang drastis, sontak saja membuat semua pihak yang berhubungan dengan kedelai menjadi merana. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan pun, tak bisa berbuat banyak untuk menyelesaikan permasalahan kelangkaan kedelai ini.
 
Ketergantungan mengimpor kedelai itu, tak lepas dari tak mampunya petani di negeri ini mencukupi, kebutuhan pasar kedelai dalam negeri. Padahal, jika digali, kualitas kedelai dalam negeri lebih baik dibanding dengan kedelai import.
 
Untuk menjawab pertanyaan tentang kebutuhan kedelai dalam negeri, Pusat Penelitian Boiteknologi LIPI Cibinong telah mengembangkan teknologi praktis dalam aplikasi bakteri Rhizobium pada biji kedelai.
 
[ES][SQ][ES][SQ]Teknologi LIPI menghasilkan suatu produk yang dikenal dengan kedelai plus,[ES][SQ][ES][SQ] ujar peneliti LIPI Ny Harmastini.
 
Dalam hal ini, bakteri rhizobium diinsersikan dalam benih dan bakteri rRhizobium menempati rongga udara yang ada didalam biji dan rhizobium hidup dalam keadaan norman di dalam kedelai.

"Petani dapat menanam kedelai plus tak memerlukan pemupukan optimal, karena kebutuhan pupuk kimia dapat berkurangi hingga 60 persen khususnya pupuk urea," tegasnya.
 
Produksi biji yang  dihasilkan pun dapat meningkat dua kali lipat produksi rata-rata nasional. Produksi nasional rata-rata 1,2 ton per hektar dan hasil uji lapangan yang mengunakan bakteri rhizobium dapat meningkatkan hasil hingga 2,6 ton/hektar. Bahkan percontohan di Musirawas menunjukan tingkat produksi hingga 3,6 ton per hektar.
 
"Peran mikroba yang hidup bersimbiosa dengan tanaman menjadi penting untuk dikaji potensinya," tegasnya.

Ia menambahkan, pemakaian pupuk itu, hasil yang diperoleh tak kalah dengan produk impor.  (*)

Sumber : http://radar-bogor.co.id/ 

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI