Biotek

Print

LIPI dan PT Bio Farma Sukses Kembangkan Erythropoietin Generasi Kedua

on .

ise15 1Cibinong - Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI bekerja sama dengan PT Bio Farma (Persero) sukses mengembangkan Erythropoietin (EPO) generasi kedua yang akan diluncurkan beberapa tahun ke depan. Penemuan tersebut, diharapkan menjadi produk yang dapat membantu terapi pada pasien cuci darah, kemoterapi, dan anemia. Sebagai tahap awal peluncuran hasil temuan, LIPI menyerahkan Research Cell Bank (RCB) EPO kepada PT Bio Farma pada Senin, 28 Desember 2015 di Gedung Publik II Bio Farma, Bandung, Jawa Barat.

LIPI saat ini tengah gencar meningkatkan kerja sama penelitian dengan pihak swasta atau industri. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Prof. Dr. Enny Sudarmonowati mengatakan, "Kerjasama penelitian antara LIPI dengan PT Bio Farma (Persero) merupakan wujud nyata hasil penelitian yang ke depan bisa langsung dimanfaatkan pengguna, baik kalangan industri maupun masyarakat. Hal ini tentu memecahkan masalah bangsa terkait kesehatan dan obat, antara lain ketersediaan bahan baku obat yang hingga saat ini mencapai 90 persen.”

Kepala Pusat Penelitian (Puslit) Bioteknologi LIPI, Dr. Bambang Sunarko mengemukakan, riset terkait EPO tersebut sebenarnya sudah dilakukan di Puslit Bioteknologi LIPI sejak tahun 2005 silam. “Riset ini kemudian berlanjut dengan Konsorsium EPO pada Forum Riset Vaksin Nasional sejak tahun 2013. Konsorsium EPO ini melibatkan lembaga riset nasional (Puslit Bioteknologi LIPI), universitas (Lab CCRC, Fakultas Farmasi UGM), dan industri (PT Bio Farma (Persero)),” ungkapnya. " Setelah proses penelitian di LIPI dirasa telah memenuhi syarat, proses selanjutnya akan dilakukan karakterisasi dan pengembangan RCB agar siap diproduksi. Maka, kami menyerahkan RCB dari Puslit Bioteknologi kepada PT Bio Farma,” lanjutnya.

lipibiofarma2.jpgDirektur Utama PT Bio Farma (Persero), Iskandar melanjutkan bahwa dengan penyerahan tersebut, pihaknya akan meneruskan penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, terutama untuk tahap karakterisasi dari RCB, dan uji lainnya. “Bio Farma akan meneruskan apa yang sudah LIPI kerjakan, terutama untuk tahapan Karakterisasi lanjutan, yang memakan waktu sekitar enam bulan, kemudian Upscale sekitar tiga tahun dan Clinical Trial tahap 1 selama satu tahun. Mudah-mudahan dalam empat tahun mendatang sudah siap dijadikan produk untuk membantu terapi pada pasien cuci darah, kemoterapi dan anemia,” jelas Iskandar.

Di sisi lain, Peneliti Puslit Bioteknologi LIPI, Dr. Adi Santoso menjelaskan, EPO generasi kedua Darbepoetin alfa memiliki beberapa keunggulan, di antaranya waktu paruh yang lebih lama bila dibandingkan dengan EPO generasi pertama. Darbepoietin terkini memiliki 5 N-linked gugus karbohidrat, sedangkan EPO generasi pertama hanya memiliki 3 N-linked. Darbepoetin berfungsi menstimulasi pembentukan sel darah merah dan sering digunakan untuk pengobatan anemia berat disebabkan gagal ginjal. Karena dalam tubuh EPO diproduksi ginjal, penderita gagal ginjal tidak dapat menghasilkan EPO dalam jumlah cukup. Selain itu, Darbepoetin alfa juga dapat digunakan bagi pasien yang biasanya mengalami anemia ketika menjalani kemoterapi

Lebih lanjut, Ahli Utama Pengembangan Produk Bio Farma, Dr. Neni Nurainy menambahkan bahwa waktu paruh adalah waktu yang diperlukan sehingga kadar obat yang masuk dalam tubuh mencapai setengah dari jumlah yang diberikan. “Keunggulan dari Darbepoetin ini adalah gugus gula yang lebih banyak dibandingkan dengan EPO generasi pertama, sehingga frekuensi pemberian yang diberikan kepada pasien dapat ditekan, dari dua kali dalam seminggu, menjadi cukup satu kali dalam seminggu,” pungkas Neni. (Angga Wijaya HF)