Biotek

Print

Pertumbuhan Kultur Tunas Taka Pada Media MS yang Mengandung Sitokinin dan Manitol untuk Konservasi In Vitro

Pertumbuhan Kultur Tunas Taka Pada Media MS yang Mengandung Sitokinin dan Manitol untuk Konservasi In Vitro

Betalini Widhi Hapsari, Andri Fadillah Martin, Tri Muji Ermayanti (2018)

Prosiding Seminar Nasional Pertanian dan Tanaman Herbal Berkelanjutan di Indonesia, Hal. 35-43. Universitas Muhammadiyah Jakarta. e-ISSN: 2615-2320.

 taccaTanaman taka (Tacca leontopetaloides (L.) Kuntze) merupakan jenis tanaman yang tumbuh terbatas di beberapa daerah pantai di Indonesia. Tanaman ini merupakan tanaman minor sehingga perlu dikonservasi. Umbi taka berpotensi sebagai sumber karbohidrat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan kultur tunas taka pada media yang mengandung sitokinin BAP atau kinetin yang dikombinasikan dengan manitol untuk konservasi secara in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biak Sel dan Jaringan Tanaman Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong Science Center pada bulan Juni 2016 sampai Maret 2017. Setelah dikonservasi selama 24 minggu, planlet diaklimatisasi. Tunas taka ditumbuhkan selama 24 minggu pada media MS yang mengandung 0, 0.5 ppm BAP dan 0.5 ppm kinetin dikombinasikan dengan manitol 0%, 2%, 4%, dan 6%. Kultur diinkubasi pada ruang bersuhu 25 oC. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan, data dianalisis dengan ANOVA dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Variabel pengamatan yang diamati setiap minggu selama 24 minggu adalah tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah akar serta daya hidup setelah aklimatisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Media MS tanpa sitokinin dan tanpa manitol (kontrol) dan media MS yang mengandung 0.5 ppm kinetin tanpa manitol menunjukkan pertumbuhan terbaik pada semua variabel pengamatan. Taka yang berasal dari media MS tanpa manitol, MS + 2% manitol, MS + 0.5 ppm BAP tanpa manitol, MS + 0.5 ppm BAP + 2% manitol, MS + 0.5 ppm kinetin tanpa manitol, dan MS + 0.5 ppm kinetin + 2% dan 4%manitol mampu tumbuh di rumah kaca.

Keywords: Tacca leontopetaloides, in vitro, manitol, sitokinin BAP, kinetin, konservasi.

Katalog: http://perpus.biotek.lipi.go.id/index.php?p=fstream&fid=3471&bid=16044

Disusun oleh: Ludya AB/Pustakawan

 

Print

Pengaruh Modifikasi KH2PO4, NH4NO3 dan Sukrosa terhadap Pertumbuhan Tunas serta Pembentukan Umbi Mikro Taka (Tacca leontopetaloides) secara In vitro

Pengaruh Modifikasi KH2PO4, NH4NO3 dan Sukrosa terhadap Pertumbuhan Tunas serta Pembentukan Umbi Mikro Taka (Tacca leontopetaloides) secara In vitro

Rudiyanto, Betalini Widhi Hapsari & Tri Muji Ermayanti (2018).

Jurnal Biologi Indonesia, Vol. 14 (1): 11-21. ISSN 0854-4425; E-ISSN 2338-834X.

 taccaPolynesian arrowroot (Tacca leontopetaloides (L.) Kuntze), which is one of the bulbous herbaceous plants, have high nutritional value. Modification of macro nutrients by reducing nitrogen content and increasing phosphorus on the medium gave affects on shoot growth and initiated micro tuber formation on in vitro cultures. The aim of this research was to determine the effect of modified macro nutrients in combination with the increase in sucrose concentrations on shoot growth and micro tuber formation of T. leontopetaloides. The experimental design was factorial completely randomized design. The factors tested were modifications of MS macro nutrients that were. M1 (170 mg/l KH2PO4 and 1650 mg/l NH4NO3; normal, control treatment); M2 (340 mg/l KH2PO4 and 825 mg/l NH4NO3); and M3 (680 mg/l KH2PO4 and 412.5 mg/l NH4NO3 in combination with 30 (S1) (control treatment), 40 (S2), 50 (S3) and 60 g/l of sucrose (S4). The variables tested were shoot height, number of leaves, number of roots and number of micro tuber which were observed weekly at 0-8 weeks after culturing. The results showed that the modification of macro nutrient in combination with sucrose concentration had significant effect on shoot height, number of leaves and number of roots but not significant on the number of tubers. The highest shoots were found in M1S3 treatment, the highest number of leaves was in M1S1 and M1S3 treatment and the highest number of roots was in M1S4 treatment. The number of tubers not significantly different between the treatments tested.

Keywords: in vitro, KH2PO4, microtuber, NH4NO3, sucrose, Tacca leontopetaloides.

Katalog: http://perpus.biotek.lipi.go.id/index.php?p=fstream&fid=3468&bid=15997

Disusun oleh: Ludya AB/Pustakawan

 

Print

Pertumbuhan Kultur Tunas Dahlia sp. Pada Media MS Dengan Pengurangan Kadar Gula Dan Tutup Tabung Berventilasi

Pertumbuhan Kultur Tunas Dahlia sp. Pada Media MS Dengan Pengurangan Kadar Gula Dan Tutup Tabung Berventilasi

Rudiyanto, Dyah Retno Wulandari dan Tri Muji Ermayanti (2018).

Prosiding Seminar Nasional Pertanian dan Tanaman Herbal Berkelanjutan di Indonesia. Hal. 184-195. Universitas Muhammadiyah Jakarta. e-ISSN: 2615-2320.

 talasDahlia sp. merupakan tanaman hias yang menghasilkan umbi mengandung inulin yang bermanfaat sebagai antioksidan. Kultur jaringan tanaman diaplikasikan untuk menghasilkan bibit dahlia yang seragam, dalam waktu relatif singkat, dan tidak dipengaruhi musim. Modifikasi media dan lingkungan in vitro sering dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketegaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengurangan konsentrasi gula dan ventilasi pada tutup tabung kultur terhadap pertumbuhan tunas Dahlia sp. secara in vitro. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan faktor yang diuji yakni gula dengan konsentrasi 10, 20 dan 30 g/l yang dikombinasikan dengan ventilasi tutup tabung berupa filter berjumlah 0, 1, 2 dan 4. Percobaan mempunyai 12 ulangan. Peubah yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah tunas samping serta jumlah akar, diamati 2 kali seminggu dari umur 0 – 4 minggu. Pengukuran diameter batang, bobot basah dan bobot kering dilakukan pada umur 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi gula berpengaruh terhadap jumlah tunas samping sedangkan jumlah ventilasi filter berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun. Tidak terdapat interaksi antara 2 faktor yang diujikan. Pada umur 4 minggu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah tunas samping serta jumlah akar yang tinggi terdapat pada perlakuan tanpa filter yang dikombinasikan dengan 10 dan 20 g/l gula, sedangkan terendah terdapat pada perlakuan ventilasi 4 filter yang dikombinasikan dengan 30 g/l gula. Pada perlakuan ventilasi 2 filter yang dikombinasikan dengan 20 g/l gula menghasilkan diameter batang tertinggi, berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, pada perlakuan ini juga menghasilkan bobot basah dan bobot kering yang lebih tinggi.

Keywords: Kultur tunas Dahlia sp., pengurangan gula, tutup berventilasi filter, pertumbuhan.

Katalog: http://perpus.biotek.lipi.go.id/index.php?p=fstream&fid=3465&bid=15992

Disusun oleh: Ludya AB/Pustakawan

 

Print

Pengaruh Perlakuan Sitokinin Terhadap Pertumbuhan In Vitro Talas Diploid Pontianak dan Talas Triploid Bolang Hitam

Pengaruh Perlakuan Sitokinin Terhadap Pertumbuhan In Vitro Talas Diploid Pontianak dan Talas Triploid Bolang Hitam

Aida Wulansari, Dyah Retno Wulandari, Laela Sari dan Tri Muji Ermayanti

Prosiding Seminar Nasional Pertanian dan Tanaman Herbal Berkelanjutan di Indonesia. Hal. 138-146. Universitas Muhammadiyah Jakarta. e-ISSN : 2615-2320.

 talasKeragaman genetik talas (Colocasia esculenta L. (Schott.)) Indonesia salah satunya ditunjukkan oleh tingkat ploidinya yang beragam diantaranya diploid dan triploid. Talas Pontianak merupakan talas diploid yang memiliki keunggulan rasa enak dan umbi besar, sedangkan talas Bolang Hitam termasuk talas triploid yang memiliki umbi besar dan terdapat bercak atau garis berwarna hitam. Penggunaan teknik kultur jaringan dalam penyediaan bibit bermutu dan bebas penyakit diperlukan untuk produksi bibit, konservasi maupun pemuliaan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan sitokinin (kinetin dan BAP) terhadap pertumbuhan in vitro talas diploid Pontianak dan talas triploid Bolang Hitam. Konfirmasi tingkat ploidi dilakukan dengan menggunakan flowsitometer, sedangkan perbanyakan tunas dilakukan dengan perlakuan kinetin konsentrasi 0; 0.5; 1; 2; dan 4 mg.L-1. Sebagai pembanding adalah media perbanyakan tunas talas terbaik dari penelitian sebelumnya yaitu BAP 2 mg.L-1 + tiamin 1 mg.L-1 + adenin 2 mg.L-1. Pengamatan dilakukan setiap minggu terhadap jumlah tunas anakan, panjang petiol, jumlah daun dan jumlah akar. Aklimatisasi planlet dilakukan pada media campuran tanah, cocopeat dan sekam bakar dengan perbandingan 2:1:1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan talas Pontianak pada media perlakuan kinetin 2 mg.L-1 menghasilkan rata-rata jumlah tunas anakan terbanyak. Perlakuan kinetin 0.5; 1 mg.L-1; dan MS0 menghasilkan petiol lebih panjang, jumlah daun dan akar lebih banyak dibandingkan perlakuan lainnya. Talas Bolang Hitam tidak membentuk anakan pada semua perlakuan kinetin. Perlakuan kinetin 0.5 dan 1 mg.L-1 menghasilkan petiol lebih panjang dibandingkan perlakuan lainnya. Rata-rata jumlah daun pada semua perlakuan berkisar antara 3.17 – 4.50 sedangkan rata-rata jumlah akar tertinggi diperoleh pada perlakuan kinetin 0.5 mg.L-1. Perlakuan BAP 2 mg.L-1 + tiamin 1 mg.L-1 + adenin 2 mg.L-1 meningkatkan pertumbuhan talas diploid maupun triploid. Pengamatan aklimatisasi sampai umur 4 minggu menunjukkan persentase hidup planlet talas Pontianak sebesar 6.67%, sedangkan pada talas Bolang Hitam semua planlet masih bertahan hidup.

Keywords: BAP (Benzyl Amino Purine), diploid, flowsitometer, kinetin, triploid.

Katalog: http://perpus.biotek.lipi.go.id/index.php?p=fstream&fid=3464&bid=15991

Disusun oleh: Ludya AB/Pustakawan

 

 

Print

ILE655VAL Genotyping Study of HER2 - Positive Breast Cancer of Patients from Padang - Indonesia With High Resolution Melting Technique

ILE655VAL Genotyping Study of HER2 - Positive Breast Cancer of Patients from Padang - Indonesia With High Resolution Melting Technique

Dwi Wulandari, Azamris Azamris, Isna Nurhayati, M Ali Warisman, Bugi Ratno Budiarto, Desriani Desriani

Annales Bogorienses Vol. 21, No. 2: 69-75

her2Trastuzumab has proven to be a great improvement in the treatment of HER2+ breast cancer patients, but it is associated with relevant adverse cardiac events and significantly elevated cost of treatment. One of the risk factor for cardiotoxicity due to trastuzumab is the I655V HER2 polymorphism (GTC> ATC mutation) in which the allele mutant (Ile/Val or Val/Val) has a higher risk than the wild type (Ile/Ile). The detection of specific alleles is very important for therapeutic decision-making. In this study, our group has developed a high resolution melting (HRM) with EvaGreen dye method to discriminate specific allele of I655V HER2 (wild type, heterozygote mutant or homozygote mutant) in 66 frozen section samples of HER2+ breast cancer patients. Our study revealed that the wild type is the most prevalent allele (77,27%), whereas heterozygous mutation is significantly present in this research (21.21%) and around 1.52% of samples were detected as minor allele. Only one sample was detected as a minor allele (Val/Val) and may have relatively low abundance in the population. This method has been compared to Sanger sequencing and shows 100% of validity.

Keywords: Breast cancer, HER2, I655V, HRM, allele

Katalog: http://http://jurnal.biotek.lipi.go.id/index.php/annales/article/view/310/pdf

Disusun oleh: Ludya AB/Pustakawan

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI