• pembimbingan
  • icon-pembimbingan-b
  • Pembimbingan Penelitian Mahasiswa oleh Puslit Bioteknologi LIPI
  • Pembimbingan Penelitian Mahasiswa oleh Puslit Bioteknologi LIPI

Perkembangan embrio sapi secara in vitro menggunakan media kultur SOF-aa : Laporan PKL 2012

sevydkSevy Dwi Kartikasari

1.1 Latar Belakang
Sapi merupakan salah saru hewan ternak yang mampu menyediakan protein hewani bagi kehidupan manusia khususnya di Indonesia. Kebutuhan akan daging sapi ini diperkirakan meningkat dari tahun ke tahun. Namun populasi sapi potong dari tahun 1994-2002 sempat mengalami penurunan sebesar 3,1 % pertahun. Penurunan populasi ini banyakteIjadi pada wilayah sentra produksi di Indonesia khususnya Nusa Tenggara Barat, NusaTenggara Tirnur, Sulawesi, Lampung, dan Bali. Selama tahun 2002-2009, menurut data BPS,populasi ternak kembali meningkat tipis (1,8-2,2%). Hal ini diduga dikarenakanperkembangan kualitas dan kuantitas yang lambat pada peternakan sapi di Indonesia,
sehingga Indonesia harus mengimpor daging sapi maupun sapi potong sejak tahun 1996 guna meningkatkan pasokan kebutuhan daging konsumen (Boediyana, 2008).

Dalam menanggapi permasalahan menurunnya populasi hewan ternak, khususnya sapi, telah berkembang beberapa teknologi reproduksi diantaranya, Inseminasi Buatan (AL Artificial Insemination), Transfer Embrio (TE, Transfer Embryo), yang kemudian terns berkembang ke teknologi prosessing semen (pemisahan spermatozoa X dan V), Fertilisasi In vitro (IVF, In vitro Fertilization), teknologi Preservasi dan Criopreservasi gamet (spermatozoa dan ova) dan embrio, pembentukan ternak transgenik, cloning dan pembentukan ternak chimera (Nursyam, 2011). Salah satu teknologi reproduksi yang telah banyak dilakukan di Pusat Penelitian Bioteknologi LlPI adalah Fertilisasi in vitro (In vitro Fertilization). Teknologi ini juga menyediakan embrio untuk mendukung teknologi manipulasi embrio lain. Fertilisasi in vitro (In vitro Fertilization) merupakan teknologi reproduksi dimana sel telur belum matang (oosit) diambil dari ternak hidup atau ovarium
berasal dari ternak betina yang baru dipotong. Oosit tersebut kemudian dirnatangkan dan dibuahi di laboratorium, kemudian dikultur sampai pada tahap tertentu dan selanjutnya ditransfer ke ternak resipien atau dibekukan untuk ditansfer kemudian.

Perkembangan embrio sapi secara in vitro menggunakan media kultur CR1-aa : Laporan PKL 2012

mutiaraarumMutiara Arum Kusumaningati

1.1. Latar Belakang
BABI
PENDAHULUAN
Kebutuhan daging nasional menurut Direktorat Jenderal Peternakan, pada tahun 2011diperkirakan mencapai 6,5%. Konsumsi daging sapi nasional akan tumbuh dari 2 kg per kapita per tahun menjadi 2,02 kg per tahun. Sehingga kebutuhan konsumsi daging sapi nasional akan naik menjadi 487.000 ton dari 449.000 ton (tahun 2011). Sedangkan pada tahun 2012 masih harus mengimpor sekitar 34,9 persen dari kebutuhan nasional. Impor terdiri dari 80 ribu ton daging sapi beku dan 394 ribu ekor sapi atau setara dengan 76 ribu ton daging sapi. Peningkatan permintaan ini tidak sesuai lagi dengan jumlah populasi ternak tiap tahunnya. Sehingga perlu adanya upaya peningkatan populasi ternak. Salah satu cara yang ditempuh selama ini adalah melalui injeksi populasi baru, namun tidaklah mudah dilakukan karena biaya yang mahal (Anoniml ,2012).

Ternak dan hasil produksinya merupakan sumber bahan pangan protein yang sangat penting untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Perkembangan populasi ternak utama dan hasil produksinya merupakan gambaran tingkat ketersediaan sumber bahan protein nasional. Sumber produksi daging adalah dari ternak sapi potong, ternak unggas, kambing, domba dan sebagian kecil dari ternak kerbau, sapi perah dan kuda afkiran. Pada tahun 2004 populasi sapi potong, kerbau dan kuda masing masing sebanyak 10,4 juta ekor, 2,5 juta ekor dan 0,4 juta ekor. Perkembangan populasi dari ternak-ternak penghasil daging tersebut pada tahun 2004 relatif tetap kecuali untuk populasi sapi potong yang mengalami penurunan sekitar 1 % dibandingkan tahun 2003. Selain itu, ternak besar ini lebih banyak diproduksi di luar Jawa daripada di Jawa (Anonim , 2012).

Usaha untuk memperbaiki kesehatan daging telah dilakukan pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan dengan menerbitkan SK.Dirjen Peternakan No. 555 Tahun 1986 tentang Syarat-syarat Rumah Pemotongan Hewan dan Usaha Pemotongan Hewan. Kemudian usaha ini diikuti oleh Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian dengan terbitnya SNI tentang Rumah Potong Hewan (SNI 01-6158-1999) tentang Rumah Potong Unggas (SNI 01-6158-1999), tentang daging dan hasil olahannya, diantaranya: Standar Dendeng Sapi (SNI 01-2908-1992), Standar Comet Beef dalam Kaleng (SNI 01-3775-1995), dan Standar Daging Sapi/Kerbau (SNI 01-3947-1995) (Chaniago dkk, 1991).

Produksi enzim pektinase Trichoderma sp. Di Puslit Bioteknologi Cibinong-Bogor: Laporan Skripsi 2011

Andri Ferbiyanto

andrif    Trichoderma merupakan kapang pemukaan tanah bersifat kosmopolit. Ketika Trichoderma ditumbuhkan pada media mengandung pektin, cendawan ini menghasilkan enzim pektinase. Enzim pektinase adalah enzim yang dapat memutus ikatan β-galaktorusidose.

Enzim tersebut dihasilkan Trichoderma yang iekstraksi dan diuji aktivitasnya dengan modifikasi metode Miller (1959). Isolat Trichoderma yang diuji aktivitasnya ada sebanyak tiga isolatKetiga isolate tersebut berasal dari Provinsi Lampung. Hasil uji aktivitas enzim pada isolat menunjukan nilai tertinggi sebesar 0.1458 unit/ml dan terendah 0,0499 unit/m!. Uji aktivitas pada isolate T058 menunjukkan nilai tertinggi sebesar 0.1509 unit/ml dan terendah 0,0296 unit ml. Sedangkan uji aktivitas pada isolat T066 menunjukkan nilai tertinggi sebesar 0.1532 Unit ml dan terendah 0,0420 unit/ml. Uji aktivitas enzim pektinase diujikan dengan pH tertentu dengan kisaran pH 4-8, dan menunjukkan aktivitas tertinggi pada pH 4,4 dengan nilai 0,115 unit/ml

Katalog : http://perpus.biotek.lipi.go.id/perpus/index.php?p=show_detail&id=13242#

Pengaruh konsentrasi 6-benzyl amino purine (BAP) terhadap pertumbuhan dan perbanyakan ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) tinggi beta karoten mentega 2 secara In Vitro: Laporan praktek Kerja Lapang 2012

sovia.jpgSovia Santi Leksikowati

Latar Belakang Masalah. Pangan merupakan hal yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Peningkatan ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. Salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan adalah melalui penganekaragaman, yakni proses mengembangkan produk pangan yang tidak tergantung hanya pada satu bahan pangan saja, tetapi juga memanfaatkan berbagai macam bahan pangan lainnya (Suryana, 2009).

Pertumbuhan Tunas Apikal dan Aksilar Kultur in Vitro Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz) Genotipe Ubi Kuning: Laporan Skripsi 2012

Inayatur Rohmah

inayaturABSTRAK

     Telah dilakukan penelitian multiplikasi tunas ubi kayu tinggi beta karoten genotipe Ubi Kuning secara kultur in vitro menggunakan dua tipe eksplan, yaitu nodus apikal dan empat nodus aksilar yang ditanam pada medium MS dengan penambahan 0,75 mgrl BAP. Penelitian bertujuan untuk mengetahui nodus yang paling responsifterhadap media induksi tunas.

Basil uji Kruskal"Wallis dan analisis variansi (ANOVA) menunjukkan adanya perbedaan nyata (0=0,05) antara perlakuan nodus (Apikal, Aksilar 1, Aksilar 2, Aksilar 3, dan Aksilar 4) dengan rata-rata jumlah tunas, tinggi tunas, jumlah daun, dan panjang daun. Basil uji lanjut Duncan (0=0,05) menunjukkan adanya perbedaan nyata di antara perlakuan nodus. Respon pertumbuhan yang paling cepat dan seragam terkait tinggi ttmas, hari tumbuh tunas, jumlah daun, dan panjang daun ditunjukkan oleh nodus tengah, yaitu nodus aksilar 2 dan 3.

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

kunjungan

pelatihan

pembimbingan

pengujian

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI