Ragam Ubi Kayu dan Pemanfaatannya

Ubi Kayu1Ubi kayu atau juga disebut dengan singkong merupakan tanaman pangan umbi yang sering dijumpai di lahan milik masyarakat dan beragam pemanfaatannya. Umbinya dapat diolah menjadi beraneka ragam makanan, mulai dari diolah secara langsung seperti singkong rebus, singkong goreng, dan keripik sampai diolah menjadi bahan setengah jadi seperti tapioka dan menjadi makanan olahan turunan dari bahan setengah jadi tersebut. Daunnya juga dapat dimanfaatkan sebagai sayuran dan bahan pakan ternak.

Batangnya berguna untuk bahan tanam pada penanaman selanjutnya. Dari keseluruhan bagian tubuh tanamannya, umbi ubi kayu merupakan bagian tanaman yang paling banyak diolah dan dimanfaatkan karena sebagai sumber karbohidrat utama selain padi dan jagung. Selain karbohidrat sebagai komposisi utama dari umbi ubi kayu, nutrisi dan protein juga terkandung dalam umbi, Nutrisi utama yang terkandung adalah beta karoten yang berfungsi sebagai provitamin A. Umbi yang mengandung beta karoten berwarna kekuningan sampai kuning, sedangkan yang berwarna putih tidak mengandung beta karoten. Kandungan beta karoten pada umbi mencapai 8 mikrogram dan 11 mikrogram per gram umbi segar. Jika dibandingkan dengan asupan vitamin A per hari yang direkomendasi oleh European Food Safety Authority dan US Food and Nutrition Board, maka dengan mengkonsumsi 100 gram ubi kayu kuning dapat memenuhi 27% kebutuhan minimal beta karoten per hari.Kandungan gluten yang ditemukan pada tepung gandum tidak ditemukan pada tepung ubi kayu, sehingga tepung ubi kayu dapat dikonsumsi oleh penderita penyakit celiac.

Kandungan senyawa kimia yang lain yang perlu diperhatikan adalah sianida (HCN) pada umbi yang menyebabkan rasa pahit dan beracun. Kandungan sianida hanya ditemukan pada ubi kayu yang umumnya tidak dikonsumsi, seperti pada singkong karet. Namun, di daerah Indonesia bagian timur, seperti di Maluku Tenggara, masyarakat lokal tetap mengkonsumsi jenis ubi kayu dengan kadar sianida tinggi. Masyarakat daerah tersebut mampu menghilangkan sianida pada umbi pada proses pengolahan dan diolah menjadi makanan yang sehat.

Dilihat dari variasi kandungan karbohidrat, nutrisi dan senyawa kimia yang lain, dapat diketahui ubi kayu tidak hanya terdiri dari satu jenis, namun terdiri dari berbagai jenis. Beberapa institusi di luar negeri dan di Indonesia memiliki koleksi berbagai jenis ubi kayu. Institusi luar negeri yang mempunyai koleksi ubi kayu antara lain International Center for Tropical Agriculture (CIAT) Colombia, Brazilian Agricultural Research Cooperation (EMBRAPA) Brazil dan International
Institute of Tropical Agriculture (IITA). Institusi di Indonesia yang memiliki koleksi ubi kayu anara
lain adalah Puslit Bioteknologi LIPI, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Kementerian Pertanian dan Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pengembangan Pertanian (BB-Biogen), Kementerian Pertanian.

Puslit Bioteknologi LIPI memiliki koleksi ratusan jenis ubi kayu yang berasal dari berbagai
daerah di Indonesia dan beberapa dari luar negeri seperti Thailand, Swiss dan Belanda.Beberapa
jenis ubi kayu yang terkoleksi adalah jenis ubi kayu yang sudah dikenal di petani, yaitu Adira 1, Adira 4, Mentega 2, Iding, dan Roti. Berdasarkan karakter tanaman keseluruhan, ubi kayu koleksi memiliki variasi warna dan bentuk daun, batang dan umbi. Salah satu contoh variasi di antara jenis ubi kayu koleksi adalah warna daun dan warna tangkai daun. Selain itu, ubi kayu koleksi telah dikarakterisasi secara molekuler (perbandingan variasi pita DNA) dan biokimia kandungan pati, beta karoten dan sianida pada umbi. Karakterisasi molekuler bertujuan untuk mengidentifikasi jenis ubi kayu, karena perbedaan secara penampakan belum tentu menyebabkan suatu jenis ubi kayu berbeda. Perbedaan penampakan luar juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan asal ubi kayu
yang berbeda dengan lokasi yang lain, sehingga mempengaruhi warna atau bentuk tanaman.

Karakterisasi biokimia dan daya hasil pada ubi kayu koleksi telah dilakukan dan beberapa ubi kayu, seperti jenis Adira 1 memiliki daya hasil dan pati yang tinggi. Berdasarkan rasa umbi, ubi kayu koleksi Puslit Bioteknologi dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu ubi kayu manis (ubi kayu yang dapat dikonsumsi langsung) dan ubi kayu pahit yang mengandung sianida. Ubi kayu pahit mengandung sianida dan dikoleksi dari Maluku Tenggara, sedangkan ubi kayu manis mengandung sangat sedikit sianida dan dikoleksi dari daerah lain, seperti, Jawa, Sumatera, dan Nusa Tenggara.
Berdasarkan warna umbi, ubi kayu koleksi dapat dikelompokkan menjadi ubi kayu putih dan ubi
kayu kuning. Ubi kayu kuning lokal mengandung beta karoten terdiri dari beberapa jenis, yaitu Mentega 1, Mentega 2, Adira 1, Lombok, dan Ubi Kuning.

Selain koleksi ubi kayu lokal, Puslit Bioteknologi LIPI juga mengkoleksi ubi kayu hasil penelitian seperti hasil radiasi dan varian yang terbentuk pada saat kultur jaringan. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk memperbaiki sifat tanaman secara genetik, sehingga dapat menaikkan nilai ekonomi ubi kayu lokal. Perbaikan sifat ubi kayu dilakukan dengan radiasi dengan sinar gamma, induksi somaklonal melalui kultur jaringan, dan rekayasa genetik.

Sifat tanaman yang diperbaiki mencakup daya hasil, kandungan nutrisi dan ketahanan terhadap stress lingkungan serta penyakit. Salah satu contoh hasil perbaikan sifat ubi kayu dari penelitian kami adalah ubi kayu FEC25 yang merupakan varian somaklonal dari Adira 4. Induksi variasi somaklonal pada Adira 4 menghasilkan jenis baru yang memiliki kandungan beta karoten pada umbinya, sehingga terjadi perbaikan kandungan nutrisi pada ubi kayu .

Keragaman ubi kayu sangat penting sebagai bahan untuk perbaikan sifat ubi kayu lokal melalui pemuliaan tanaman ataupun bioteknologi, seperti teknologi di atas. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi petani dan masyarakat untuk menaikkan nilai jual ubi kayu dan mendapatkan bahan makanan yang bernutrisi.

Melalui kegiatan prioritas Kedeputian Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Biovillage, jenis-jenis ubi kayu unggul koleksi Puslit Bioteknologi diperkenalkan dan dibuat etalase lahan ubi kayu unggul, serta pengolahan pasca panennya di kawasan Cibinong Science Center-Botanic Garden (CSC-BG) LIPI. Di dalam kawasan ini terdapat lahan budidaya ubi kayu yang disambungkan dengan workshop prosesing mocaf kaya beta karoten dengan bahan baku dari lahan tersebut.

Adanya etalase ini berfungsi sebagai tempat pelatihan petani, masyarakat dan anak sekolah, serta sebagai alat penyebaran informasi mengenai hasil penelitian ubi kayu ke masyarakat, industri dan pemerintah. (Wahyuni dan N. Sri Hartati)