Taman Kupu-Kupu Biovillage

kupu2Ketertarikan masyarakat umum terhadap kupu-kupu makin meningkat. Cara mudah dan menyenangkan untuk melihat kupu-kupu adalah dengan mengunjungi taman kupu-kupu. Taman kupu-kupu dapat digunakan sebagai tempat wisata sambil belajar mengenai alam dan kehidupan kupu-kupu. Taman kupu-kupu di CSCBG dimaksudkan menjadi sarana edukasi, konservasi, dan budidaya yang berkelanjutan.

Taman kupu-kupu ini mulai dibangun pada tahun 2016 dengan fokus pada penatalaksanaan kegiatan di taman kupu-kupu. Kegiatan diawali pengembangan taman kupukupu dan usaha budidaya atau penangkaran kupu-kupu yang dapat memberikan berbagai manfaat dan kontribusi. Dari sisi edukasi, fasilitas taman kupu-kupu dapat digunakan sebagai tempat pengamatan dan penelitian untuk mengetahui lebih rinci mengenai daur hidup dan perikehidupan berbagai spesies kupu-kupu. Dari sisi konservasi, pengetahuan mengenai kupu-kupu ini sangat penting untuk menjadi landasan berbagai kebijakan terkait status perlindungan kupu-kupu.

Dalam hal budidaya, penangkaran dapat menghasilkan berbagai spesies kupu-kupu yang bernilai ekonomis dan dapat di perjualbelikan secara bertanggung-jawab dan berkesinambungan, sejauh kita dapat mengetahui dan mengembangkan tanaman pakan ulatnya. Kebanyakan jenis kupu-kupu sangat bergantung pada satu atau dua jenis tumbuhan, yang umum disebut sebagai tanaman inang.

Dalam taman kupu-kupu biovillage telah dilakukan penangkaran 8 spesies kupu-kupu, yaitu Papilio polytes, P. memnon, P. demoleus, P.peranthus, Pachliopta aristolochiae, Troides helena, Cethosia hypsea, dan Acraea terpsicore.

Kupu-kupu raja Troides helena merupakan salah satu spesies kupu-kupu yang dilindungi di Indonesia dan termasuk dalam Appendiks II CITES. Jumlah yang dipelihara sampai akhir tahun 2016 hampir mencapai 1.800 ekor dengan tingkat keberhasilan 80%

kupu2tamanSelain itu, telah berhasil dipelihara sekitar 3.000 individu yang termasuk dalam 15 spesies kupu-kupu. Sebagai tambahan terhadap 8 spesies yang telah dipelihara pada tahun 2016, ada 7 spesies lain, Papilio demolion, Graphium agamemnon, Eurema blanda, Hebomoia glaucippe, Danaus chrysippus, Euploea phaenareta, dan Hypolimnas bolina.

Pengetahuan yang diperoleh dari taman kupu-kupu ini sangat baik dan mampu mendukung data yang diperlukan untuk peningkatan kapasitas LIPI terutama terkait spesies yang dilindungi dan diatur dalam CITES. Dalam hal ini, Troideshelena yang datang menghampiri merupakan contoh yang sangat baik dan efektif.

Namun pemeliharaan terhadap kupu-kupu dewasa maupun stadium pradewasa memerlukan upaya harian yang intensif. Tanpa penanganan yang memadai, kupu-kupu ini rawan sekali mati. Kupu-kupu dalam stadium telur, ulat, kepompong, maupun dewasa memerlukan kondisi yang optimal untuk pertumbuhannya.

Faktor yang menghambat penangkaran kupukupu meliputi hal terkait kurang memadainya ruang pemeliharaan. Pada musim kemarau, cukup banyak ulat mengalami kematian karena daun inangnya menjadi kering dan menghitam karena terik matahari. Sebaliknya pada musim penghujan, air tampias mengenai beberapa wadah plastik tempat ulat sehingga ulat di dalamnya mati. Hal ini perlu disikapi dengan langkah perbaikan fasilitas ruang pemeliharaan. Tanpa penanganan yang optimal, taman kupu-kupu yang telah terbangun ini akan dengan mudah menjadi terbengkalai. (Djunijanti Peggie)