Kemenag Dituntut Berperan Aktif dalam Program Kesehatan & Vaksin

vaksinPetugas menyuntikkan vaksin Campak dan Measles Rubella (MR) pada salah satu siswa Sekolah Dasar di lingkungan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 109 Sako Palembang,sumsel, Rabu (1/8/2

Peran Kemenag dalam membantu program kesehatan pemerintah dipertanyakan setelah Kemenkes menunda pemberian vaksin MR bagi warga yang mempersoalkan kehalalannya.

tirto.id - Kementerian Agama diminta lebih berperan aktif membantu sosialisasi program-program kesehatan pemerintah. Peran Kemenag dinilai vital sebab masyarakat masih menganggap penting pandangan keagamaan dari pemuka agama sebelum memutuskan untuk turut serta dalam program kesehatan yang dicanangkan pemerintah.

Pernyataan itu ditegaskan Kepala Laboratorium Terapetik dan Vaksin Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adi Santoso kepada Tirto, Senin (6/8/2018). Hal itu sebagai respons terkait banyaknya masyarakat yang masih menolak program vaksinasi karena alasan kehalalan.

Semestinya, kata Adi, pemerintah memaksimalkan peran Kemenag untuk lebih aktif membantu sosialisasi program-program kesehatan pemerintah. Lebih-lebih program kesehatan yang masih memicu perdebatan di masyarakat, seperti deteksi dini HIV dan vaksinasi.

“Seperti vaksinasi atau sosialisasi deteksi dini HIV itu, kan, juga agak tidak enak karena menggunakan teknik yang demikian [dianggap tabu]. Bantuan dari sisi Kemenag saya pikir sangat membantu [untuk meyakinkan masyarakat] bahwa deteksi dini itu penting," ujar Adi.

LIPI Dorong Peningkatan Kualitas Sapi Lewat Evaluasi Kualitas Pangan

Penulis:Budi Seno P Santo.

14 Agustus 2018 18:51 WIB

LIPI Dorong Peningkatan Kualitas Sapi Lewat Evaluasi Kualitas PanganPlt Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Syamsidah Rahmawati.(foto,ist)

SuaraKarya.id - BOGOR: Penggunaan pakan berkualitas dan suplemen pakan yang tepat fungsi dan teruji unggul di dalam rumen, sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi potong dan sapi perah.

Demikian dikemukakan, Plt Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Syamsidah Rahmawati, dalam sambutannya pada acara Workshop Evaluasi Kualitas Pakan dan Ekologi Rumen, untuk Meningkatkan Produktivitas Sapi Potong dan Sapi Perah, di Cibinong, Bogor, Senin (13/8/2018).

Dijelaskannya, kadar nutrisi dan kualitas dari pakan penting untuk diketahui dan diuji terlebih dahulu sebelum diberikan pada ternak sapi. “Hal ini dilakukan agar pakan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak sapi, untuk dapat berproduksi secara optimal baik untuk produksi daging ataupun susu,” ungkapnya.

Karenanya, khusus untuk pakan, lembaga riset melalui Pusat Penelitian Bioteknologi mendorong evaluasi kualitas pangan guna meningkatkan produktivitas sapi. Sayangnya, kata Syamsidah, selama ini pengujian kualitas pakan dilakukan dengan menggunakan analisa standar laboratorium, yang terkadang melalui prosedur yang rumit dan memerlukan waktu yang lama, serta memerlukan bahan kimia lain dalam analisanya.

LIPI Sebut Kualitas Pakan Ternak Belum SNI, Ini Akibatnya

Reporter:Ade Ridwan Yandwiputra (kontributor)

Editor:Clara Maria Tjandra Dewi H.

Senin, 13 Agustus 2018 18:52 WIB

sni pakanPeternak memberi pakan sapi perah di Dusun Surugalih, Desa Pucangsari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. TEMPO/Abdi Purmono

TEMPO.CO, Bogor - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut alasan pasokan daging sapi dan susu perah yang belum maksimal di Indonesia. Menurut LIPI, pakan yang diberikan kepada ternak belum memenuhi persyaratan.

Ketua Pusat Unggulan Iptek Bioteknologi Sapi Potong dan Sapi Perah LIPI, Yantyati Widyastuti menyebut berdasarkan data Kementerian Pertanian RI hingga tahun 2018, Indonesia baru dapat memenuhi kebutuhan daging sapi sebesar 70 persen dan sisanya masih impor.

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI