Print

LIPI Dorong Peningkatan Kualitas Sapi Lewat Evaluasi Kualitas Pangan

LIPI Dorong Peningkatan Kualitas Sapi Lewat Evaluasi Kualitas PanganPlt Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Syamsidah Rahmawati. (foto,ist)
 
 
14 Agustus 2018 18:51 WIB 

Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - BOGOR: Penggunaan pakan berkualitas dan suplemen pakan yang tepat fungsi dan teruji unggul di dalam rumen, sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi potong dan sapi perah.

Demikian dikemukakan, Plt Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Syamsidah Rahmawati, dalam sambutannya pada acara Workshop Evaluasi Kualitas Pakan dan Ekologi Rumen, untuk Meningkatkan Produktivitas Sapi Potong dan Sapi Perah, di Cibinong, Bogor, Senin (13/8/2018).

Dijelaskannya, kadar nutrisi dan kualitas dari pakan penting untuk diketahui dan diuji terlebih dahulu sebelum diberikan pada ternak sapi. “Hal ini dilakukan agar pakan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak sapi, untuk dapat berproduksi secara optimal baik untuk produksi daging ataupun susu,” ungkapnya.

Karenanya, khusus untuk pakan, lembaga riset melalui Pusat Penelitian Bioteknologi mendorong evaluasi kualitas pangan guna meningkatkan produktivitas sapi. Sayangnya, kata Syamsidah, selama ini pengujian kualitas pakan dilakukan dengan menggunakan analisa standar laboratorium, yang terkadang melalui prosedur yang rumit dan memerlukan waktu yang lama, serta memerlukan bahan kimia lain dalam analisanya.

Hal ini, lanjutnya, memungkinkan timbulnya pencemaran lingkungan sebagai akibat dari penggunaan bahan kimia selama proses pengukuran dan pengujian. “Inilah yang perlu dievaluasi,” ucapnya.

Teknologi Near-infrared Spectroscopy (NIRS),  disebutkannya,  merupakan salah satu metode baru, yang berpotensi menggantikan metode analisa kimia dalam penentuan kadar nutrisi pakan ternak. Metode NIRS memperhatikan keseimbangan mikroorganisme dalam rumen dan kesehatan ternak.

Di bagian lain, Koordinator Pusat Unggulan Iptek Bioteknologi Peternakan Sapi Potong dan Sapi Perah LIPI Yantyali Widyastuti mengatakan, pakan memiliki pengaruh besar terhadap kualitas sapi. Karenanya, imbuh dia, pakan sapi harus ramah lingkungan.

"Kalau sebelumnya banyak yang menggunakan bahan kimia, kini tidak boleh lagi," ujarnya. Pakan sapi berbahan kimia bisa mengancam kesehatan manusia. Dengan mengkonsumsi daging sapi, dengan pakan kimia, bisa menyebabkan kanker.

Praktik menambahkan bahan kimia dilakukan peternak untuk meningkatkan bobot sapi. Dikatakannya, sejak tahun 2009, hal itu sudah dilarang. Namun, dia tidak memungkiri masih adanya praktik tersebut di lapangan.

Editor : Laksito Adi Darmono
Sumber :http://m.suarakarya.id/detail/76707/LIPI-Dorong-Peningkatan-Kualitas-Sapi-Lewat-Evaluasi-Kualitas-Pangan

 

Print

LIPI Sebut Kualitas Pakan Ternak Belum SNI, Ini Akibatnya

Reporter:Ade Ridwan Yandwiputra (kontributor)

Editor:Clara Maria Tjandra Dewi H.
Senin, 13 Agustus 2018 18:52 WIB

Peternak memberi pakan sapi perah di Dusun Surugalih, Desa Pucangsari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. TEMPO/Abdi Purmono

Peternak memberi pakan sapi perah di Dusun Surugalih, Desa Pucangsari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. TEMPO/Abdi Purmono

TEMPO.CO, Bogor - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut alasan pasokan daging sapi dan susu perah yang belum maksimal di Indonesia. Menurut LIPI, pakan yang diberikan kepada ternak belum memenuhi persyaratan.

Ketua Pusat Unggulan Iptek Bioteknologi Sapi Potong dan Sapi Perah LIPI, Yantyati Widyastuti menyebut berdasarkan data Kementerian Pertanian RI hingga tahun 2018, Indonesia baru dapat memenuhi kebutuhan daging sapi sebesar 70 persen dan sisanya masih impor.

Print

Berburu Bibit hingga Daerah, Kandung Banyak Gen Spesial

enung1

Oceng (kanan) bersama Enung Sri Mulyaningsih membersihkan rumput liar di sela-sela bibit buah sempur di Kebun Plasma Nutfah Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI di Cibinong, Bogor (21/5).

Sebagian buah-buahan Nusantara masuk kategori langka atau terancam punah. Sebut saja menteng, gandaria, atau sempur. Terancam punah lantaran memiliki rasa tak enak, tampilan kurang menarik, dan tidak memiliki nilai jual.

HILMI SETIAWAN/JAWA POS, Bogor

CUACA panas pinggiran Bogor langsung tak terasa begitu memasuki area kebun plasma nutfah milik Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. Diredam puluhan pohon yang men- julang tinggi di area seluas 20 hektare itu. Di luar kebun tersebut, terdapat area khusus untuk pembibitan dengan luas sekitar 1 hektare.

Seorang pegawai kebun pembibitan yang bekerja siang itu adalah Oceng. ”Panggilan saya Oceng. Nama lengkap saya juga Oceng,” kata pria berkacamata tersebut Senin pekan lalu (21/5). Saat itu Oceng sedang merawat bibit pohon buah langka yang masih seukuran sejengkal orang dewasa. Bibit ini ditanam menggunakan polybag. Oceng mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di antara bibit buah langka tersebut.

Ketika itu yang sedang digarap Oceng adalah bibit pohon buah menteng (Baccaurea racemosa)

Buah menteng merupakan buah khas yang dahulu banyak ditemukan di Jakarta dan sekitarnya. Jika sudah masak, kulit buahnya berwarna kuning. Daging buahnya merah dan rasanya khas. ’’Rasanya campuran asam dan manis,’’ kata pegawai yang sudah bekerja sejak 1980-an itu.

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI